Malam Satu Suro di Jogja: Mengintip Keseruan Warga dari Berbagai Daerah Ikut Tradisi Mubeng Beteng

Tradisi rutin menyambut pergantian tahun baru Jawa diisi ritual sakral Tapa Bisu Mubeng Beteng di Jogja berlangsung khidmat

18 Juni 2026, 06:02 WIB

Yogyakarta– Ribuan warga memadati kawasan Keraton Yogyakarta pada Selasa (16/6/2026) dini hari untuk mengikuti ritual sakral Tapa Bisu Mubeng Beteng.

Tradisi rutin menyambut pergantian tahun baru Jawa ini berlangsung khidmat, namun di balik suasana heningnya, tersimpan beragam kisah menarik dari para peserta.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah rombongan penyandang tuna netra yang dipimpin oleh Joko Susanto (40).

Bagi Joko dan kelima rekannya, keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mencintai budaya lokal.

“Kami merasa menjadi bagian dari Yogyakarta. Mau ikut melestarikan budaya Jawa,” ujar Joko saat ditemui di lokasi.

Menariknya, rombongan ini datang dari berbagai penjuru wilayah DIY, mulai dari Sleman hingga Bantul.

Meski sempat kesulitan mencari relawan pendamping tahun lalu hingga harus berjalan mengandalkan insting dan sisa penglihatan, mereka tetap konsisten hadir.

Bagi mereka, Mubeng Beteng adalah momen refleksi diri yang terasa lebih ringan jika dilakukan bersama-sama.

Tak mau kalah, anak-anak muda pun tampak antusias. Surya Herdianto (30) dan rekan-rekannya dari Sleman hadir dengan mengenakan pakaian adat Yogyakarta yang lengkap.

“Kami ingin ngajak teman-teman pakai baju adat biar keren. Lagipula, semakin dalam maknanya,” kata Surya.

Senada dengan Surya, sahabatnya, Puput Fikyfendy, merasa mengikuti tradisi ini adalah sebuah pengalaman yang wajib dirasakan setidaknya sekali seumur hidup sebagai warga Jogja.

Mereka mengaku tidak ada persiapan fisik khusus, cukup istirahat yang cukup agar siap menempuh rute panjang di tengah malam.

Daya tarik Mubeng Beteng ternyata sudah melintasi batas kota. Siti Korimah (47), warga asal Jepara, rela datang jauh-jauh setelah penasaran melihat unggahan di TikTok.

Bahkan, Noi—sapaan akrabnya—totalitas membawa pakaian adat sendiri dari rumah. “Saya pengen tahu langsung seperti apa ritualnya. Katanya ini momen yang bagus untuk memanjatkan doa,” ungkapnya antusias.

Antusiasme masyarakat memang sudah terasa sejak pukul 20.00 WIB. Tradisi Hajad Kawula Dalem yang digelar atas perkenan Sri Sultan Hamengku Buwono X ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai luhur tetap terjaga, baik oleh generasi tua maupun muda.

Meski harus menempuh perjalanan sejauh 5 kilometer tanpa berbicara, tawa dan semangat para peserta sebelum ritual dimulai menunjukkan bahwa budaya Jawa masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat modern.***

Berita Lainnya

Terkini