Yogyakarta-Pernah dengar berita soal Sekolah Dasar (SD) negeri yang makin sepi peminat? Fenomena ini sekarang lagi meluas di berbagai wilayah Yogyakarta, mulai dari Kota Jogja, Sleman, sampai Gunungkidul.
Menanggapi hal ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akhirnya buka suara. Wamen Dikdasmen, Fajar Riza Ul Haq, menyatakan penggabungan sekolah alias regrouping adalah langkah paling masuk akal untuk saat ini.
Kenapa Banyak SD Negeri yang Kekurangan Murid?
Menurut Fajar, ada tiga alasan utama kenapa bangku-bangku sekolah negeri banyak yang kosong:
• Faktor Demografi: Jumlah anak usia sekolah dasar memang sedang mengalami penurunan secara alami.
• Pilihan Orang Tua Berubah: Banyak orang tua kini lebih melirik sekolah swasta tertentu yang dinilai punya kualitas lebih, meskipun harus bayar.
• Tren Sekolah Keagamaan: Kekhawatiran terhadap kenakalan remaja membuat banyak orang tua memilih menyekolahkan anak ke sekolah berbasis agama atau pesantren (boarding school).
Melihat kondisi ini, Kemendikdasmen memberikan lampu hijau bagi pemerintah daerah yang ingin menggabungkan sekolah-sekolah yang kekurangan murid.
Selain bikin operasional jadi lebih efisien—karena biaya sekolah dengan 5 murid atau 50 murid pada dasarnya sama saja—langkah ini juga mempermudah pemerataan guru lewat redistribusi tenaga pendidik.
Langkah tegas ini rupanya sudah mulai dijalankan. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pendidikan resmi menggabungkan lima pasang SD negeri pada tahun ajaran baru ini karena terus-menerus kekurangan pendaftar.
Kepala Disdik Gunungkidul, Nunuk Setyowati, menyebutkan daftar sekolah yang resmi digabung (regrouping):
• SDN Sambeng II digabung dengan SDN Sambeng I
• SDN Widoro Semin digabung dengan SDN Sumberejo Semin
• SDN Kemiri I Tanjungsari digabung dengan SDN Kemiri II Tanjungsari
• SDN Jaten Tanjungsari digabung dengan SDN Gatak Tanjungsari
• SDN Gelaran III Karangmojo digabung dengan SDN Banyubening I Karangmojo
Dengan penataan ini, pengelolaan sekolah diharapkan bisa jauh lebih efektif dan kualitas belajar-mengajar kembali terdongkrak. ***

