Denpasar – Meski menghadapi sejumlah tantangan global dan domestik, tingkat kepercayaan masyarakat Bali terhadap kondisi ekonomi masih tetap terjaga.
Berdasarkan data terbaru dari Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali pada Mei 2026 tercatat berada di level 121,9.
Angka ini menunjukkan, warga Bali masih berada dalam zona optimis (di atas 100), bahkan masih sedikit lebih unggul jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang berada di angka 120,9.
Optimisme ini secara khusus terlihat pada masyarakat dengan kelompok pengeluaran menengah.
Konsumen dengan pengeluaran Rp6–7 juta mencatatkan kenaikan keyakinan sebesar 21% secara bulanan (month-to-month).
Tren positif juga diikuti oleh kelompok pengeluaran lainnya, mulai dari Rp2 juta hingga Rp6 juta.
Menariknya, rasa percaya diri ini merata baik di kalangan pekerja sektor informal (124,7) maupun pekerja sektor formal (119,3).
Walaupun masih optimis, IKK Bali memang mengalami sedikit perlambatan dibandingkan bulan April (124,09). Ada beberapa faktor yang membuat konsumen sedikit “mengerem” ekspektasi mereka:
Tekanan Harga Pangan: Inflasi Mei 2026 yang mencapai 0,42% (mtm) dipicu oleh kenaikan harga bahan pokok seperti beras dan cabai. Hal ini berdampak langsung pada persepsi masyarakat mengenai kondisi ekonomi saat ini.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran kenaikan harga pangan global dan sedikit berpengaruh terhadap perlambatan kunjungan wisatawan ke Bali.
Penurunan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) & Ekspektasi: Penurunan terjadi pada komponen penghasilan dan kegiatan usaha, baik untuk kondisi saat ini maupun prediksi enam bulan ke depan.
Menanggapi dinamika tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menegaskan pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus bekerja keras untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Kami bersama TPID, baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota, terus bersinergi menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar, pengawasan harga komoditas strategis, serta penguatan distribusi pangan,” ujar Achris.
Selain langkah di sektor riil, Bank Indonesia juga telah mengambil kebijakan moneter dengan menyesuaikan suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,50%.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi pro-stability untuk menekan inflasi sekaligus *pro-growth* agar ekonomi Bali tetap bisa tumbuh di tengah tantangan yang ada. ***

