Jejak Tjoet Nyak Dhien Hingga di Pengasingan Sumedang

14 November 2020, 22:11 WIB
IMG 20201111 WA0046%2B%25282%2529
Makam Tjoet Nyak Dien yang berada di Gunung Puyuh Kabupaten Sumedang
dengan juru kunci makam Feniyuliani Amijaya/ist

Sumedang – Hari itu.. tepat 11 Desember 1906, Bupati Sumedang, Pangeran
Aria Suriaatmaja kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan
titipan pemerintah Hindia Belanda.

Seorang perempuan tua renta, rabun serta menderita encok, seorang lagi lelaki
tegap berumur kurang lebih 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun.

Walau tampak lelah mereka bertiga tampak tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan
perempuan itu merupakan satu-satunya pakaian yang ia punya selain sebuah
tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.

Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran
Aria tidak menempatkannya di penjara, melainkan memilih tempat di salah satu
rumah tokoh agama setempat.

Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta
penderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 6 November 1908 masyarakat
Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan itu.

Perjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan itu sebelum akhirnya
beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat
kota Sumedang.

Yang mereka tahu, karena kesehatan yang sangat buruk, perempuan
tua itu nyaris tak pernah keluar rumah. Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajar mengaji ibu-ibu dan
anak-anak setempat yang datang berkunjung.

Sesekali mereka membawakan pakaian
atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu, yang belakangan
karena pengetahuan ilmu-ilmu agamanya disebut dengan Ibu Perbu.

Waktu itu tak ada yang menyangka bila perempuan yang mereka panggil Ibu Perbu
itu adalah “The Queen of Aceh Battle” dari Perang Aceh (1873-1904) bernama
Tjoet Nyak Dhien.

Singa betina dengan rencong ditangan yang terjun langsung ke medan perang.
Pahlawan sejati tanpa kompromi yg tidak bisa menerima daerahnya dijajah.

Hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi.
Jauh dari tanah kelahiran dan orang-orang yang dicintai. Gadis kecil cantik
dan cerdas dipanggil Cut Nyak dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat di
Lampadang tahun 1848.

Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teuku Nanta Setia, keturunan perantau Minang
pendatang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18 ketika kesultanan Aceh
diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.

Tumbuh dalam lingkungan yang memegang tradisi beragama yang ketat membuat
gadis kecil Cut Nyak Dhien menjadi gadis yang cerdas. Di usianya yang ke 12
dia kemudian dinikahkan orangtuanya dengan Teuku Ibrahim Lamnga yang merupakan
anak dari Uleebalang Lamnga XIII.

Suasana perang yang meggelayuti atmosfir Aceh pecah ketika tanggal 1 April
1873 F.N.

Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap kesultanan Aceh. Sejak saat itu
gelombang demi gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu berhasil dipukul
kembali oleh laskar Aceh, dan Tjoet Nyak tentu ada disana.

Diantara tebasan rencong, pekik perang wanita perkasa itu dan dentuman meriam,
dia juga yang berteriak membakar semangat rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh
dan dibakar tentara Belanda…!!

“Rakyatku, sekalian mukmin orang-orang Aceh ! Lihatlah !! Saksikan dengan
matamu Masjid kita dibakar !! Tempat Ibadah kita dibinasakan !! Mereka
menentang Allah !! Camkanlah itu! Jangan pernah lupakan dan jangan pernah
memaafkan para kaphe (kafir) Belanda !!”. Perlawanan Aceh tidak hanya dalam
kata-kata (Szekely Lulofs, 1951:59).

Perang Aceh adalah cerita keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah
lahir. Begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan suaminya, setiap hari..
setiap waktu dihabiskan untuk berperang dan berperang melawan kaphe-kaphe
Belanda.

Tetapi perang juga lah yang mengambil satu-persatu orang yang dicintainya,
ayahnya lalu suaminya menyusul gugur dalam pertempuran di Glee Tarom 29 Juni
1870.

Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar dengan
pertimbangan strategi perang. Belakangan Teuku Umar juga gugur dalam serbuan
mendadak yang dilakukan Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899.

Tetapi bagi Tjoet Nyak, perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar,
atau Teungku Ibrahim Lamnga suaminya, bukan juga monopoli Teuku Nanta Setia
ayahnya, atau para lelaki Aceh. Perang Aceh adalah milik semesta rakyat.

Setidaknya itulah yang ditunjukan Tjoet Nyak, dia tetap mengorganisir
serangan-serangan terhadap Belanda. Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan
pemikiran putri bangsawan itu hanya dicurahkan kepada perang mengusir
penjajah.

Berpindah dari satu tempat persembunyian ke persembunyian yang lain, dari
hutan yang satu ke hutan yang lain, kurang makan dan kurangnya perawatan
membuat kondisi kesehatannya merosot. Kondisi pasukanpun tak jauh berbeda.

Pasukan itu bertambah lemah hingga ketika pada 16 November 1905 Kaphe Belanda
menyerbu ke tempat persembunyiannya.. Tjoet Nyak Dhien dan pasukan kecilnya
kalah telak.

Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-sakitan, Tjoet Nyak memang tak
bisa berbuat banyak. Rencong pun nyaris tak berguna untuk membela diri. Ya,
Tjoet Nyak tertangkap dan dibawa ke Koetaradja (Banda Aceh) dan dibuang ke
Sumedang, Jawa Barat.

Perjuangan Tjoet Nyak Dhien menimbulkan rasa takjub para pakar sejarah asing
hingga banyak buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita ini. Zentgraaff
mengatakan, para wanita lah yang merupakan de leidster van het verzet
(pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu.

Aceh mengenal Grandes Dames (wanita-wanita besar) yang memegang peranan
penting dalam berbagai sektor, Jauh sebelum dunia barat berbicara tentang
persamaan hak yang bernama emansipasi perempuan.

Tjoet Nyak, “The Queen of Aceh Battle”, wanita perkasa, pahlawan yang
sebenarnya dari suatu realita jamannya.. berakhir sepi di negeri seberang..

Innalillahi wainnailaihi rojiun.. (*)

* Edah Zubaedah, Sejarawan, Pegiat Budaya di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Artikel Lainnya

Terkini