Penglipuran Village Festival XIII Siap Digelar 9 Hingga 11 Juli 2026

22 Juni 2026, 21:27 WIB

Bangli – Desa Wisata Penglipuran bersiap menyelenggarakan Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026 pada 9–11 Juli 2026 di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Bali.

Festival tahun ini mengangkat tema “Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif,”
Melalui tema tersebut, Penglipuran ingin menyampaikan pesan bahwa pariwisata masa
depan tidak cukup hanya ramai dikunjungi.

Pariwisata harus mampu menjaga adat,
merawat lingkungan, menguatkan ekonomi masyarakat, memperkaya pengalaman
wisatawan, serta mewariskan desa yang lebih baik kepada generasi mendatang.

Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran, Wayan Sumiarsa, menyampaikan bahwa Penglipuran Village Festival XIII bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang kebersamaan untuk mempertemukan budaya, lingkungan, UMKM, edukasi, dan semangat regeneratif masyarakat desa.

“Penglipuran tidak hanya ingin dikenal sebagai desa wisata yang indah, bersih, dan
tertata. Kami ingin Penglipuran menjadi contoh desa wisata yang hidup, berbudaya,
inklusif, dan regeneratif,” ujar Wayan Sumiarsa.

Penglipuran Village Festival XIII dirancang sebagai festival yang tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga pengalaman.

Festival ini mengusung konsep 4S, yakni Something to Do, Something to See, Something to Buy, dan Something to Learn.

Melalui konsep tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat keindahan desa,
tetapi juga dapat ikut melakukan aktivitas kreatif, menyaksikan pertunjukan budaya,
membeli produk lokal, menikmati kuliner, mengenal UMKM, mengikuti workshop, serta
belajar tentang lingkungan dan kehidupan masyarakat desa adat.

Rangkaian kegiatan festival akan menghadirkan tari kolosal, parade gebogan, tari
penyambutan, Tari Palegongan “Raksan Gumi”, bondres, seni pertunjukan, lomba penjor, lomba gebogan, lomba busana tempoe doloe, workshop lingkungan, Yoga Tertawa, musik lokal, pameran, kuliner, handicraft, souvenir,
merchandise, serta paket pengalaman wisata berbasis desa.

“Kami ingin wisatawan pulang tidak hanya membawa foto, tetapi juga membawa cerita,
pengetahuan, rasa hormat, dan pengalaman bermakna tentang harmoni hidup
masyarakat Penglipuran,” imbuh Wayan Sumiarsa.

Pada hari pertama, Kamis, 9 Juli 2026, festival akan dibuka dengan nuansa budaya yang kuat melalui penyambutan tamu undangan, tari kolosal, parade gebogan, tari penyambutan, pembukaan resmi festival, Tari Palegongan “Raksan Gumi”, bondres, peninjauan stand pameran, penilaian lomba gebogan, penilaian lomba penjor, serta seni pertunjukan.

Pada hari kedua, Jumat, 10 Juli 2026, festival akan menghadirkan workshop lingkungan, lomba busana tempoe doloe, serta musik lokal. Hari kedua ini menjadi ruang edukasi, kreativitas, dan ekspresi generasi muda.

Hari ketiga, Sabtu, 11 Juli 2026, festival menghadirkan Yoga Tertawa dan musik lokal sebagai simbol kegembiraan, kesehatan, kebersamaan, dan energi positif masyarakat Penglipuran.

Penglipuran Village Festival XIII menjadi ajakan terbuka kepada masyarakat Indonesia dan wisatawan mancanegara untuk hadir dan merasakan langsung kehidupan desa adat Bali yang harmonis, bersih, tertata, dan berbudaya.

Festival ini juga menjadi ruang penting untuk memperkuat peran UMKM dan produk
lokal.

Melalui stand kuliner, handicraft, souvenir, merchandise, dan paket pengalaman
wisata, manfaat pariwisata diharapkan semakin dirasakan oleh masyarakat desa.

“Datang ke Penglipuran Festival berarti menikmati budaya, belajar dari desa,
mendukung UMKM lokal, dan ikut menjaga masa depan pariwisata Bali,” pungkasnya.***

 

Berita Lainnya

Terkini