Pontianak – Aksi cepat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak berhasil menyelamatkan tiga ekor anakan buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii) dari permukiman nelayan di Dusun Teredu, Desa Anjungan Dalam, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat , Minggu (30/8).
Satwa langka yang dikenal masyarakat Dayak Kanayatn/Ahe sebagai “Baringayong” ini masing-masing berukuran sekitar 33 sentimeter. Penyelamatan dilakukan setelah adanya laporan warga mengenai telur buaya yang menetas di sekitar permukiman dan indikasi akan diperdagangkan pada 20 Agustus 2026.
Tim Respon Cepat Balai PK Pontianak segera turun ke lapangan, memastikan evakuasi dilakukan sesuai prinsip animal welfare.
Evaluasi klinis awal bersama dokter hewan spesialis menunjukkan kondisi ketiga anakan cukup baik, meski masih terdapat sisa kantung kuning telur yang berpotensi menimbulkan infeksi bila tidak dirawat intensif.
Kini, ketiga anakan buaya tersebut menjalani pemeliharaan di Tempat Penampungan Sementara Balai PK Pontianak hingga kondisi fisik dan organ luar pulih.
Syarief Iwan Taruna Alkadrie, menegaskan temuan ini menjadi catatan penting bagi data sebaran buaya sinyulong di Kalimantan Barat. “Sebelumnya, sebaran lebih banyak teridentifikasi di Kapuas Hulu dan Ketapang. Temuan di Mempawah mengonfirmasi ekosistem Sungai Mempawah Hulu masih mendukung reproduksi spesies ini,” ujarnya.
Menurut Iwan, dinamika habitat buaya sinyulong perlu terus dipantau, mengingat ancaman degradasi rawa gambut, perubahan debit sungai, dan ketersediaan pakan alami.
Dengan tambahan tiga individu tersebut, Balai PK Pontianak kini merawat empat anakan buaya: tiga sinyulong dan satu buaya muara berukuran 38 sentimeter.
Balai PK Pontianak berkoordinasi dengan pemerintah desa dan aparat setempat untuk memantau habitat serta meningkatkan edukasi masyarakat. KKP mengimbau agar masyarakat tidak menangkap, memelihara, maupun memperjualbelikan buaya sinyulong.
Spesies ini berstatus Endangered dalam IUCN Red List dan tercantum dalam Appendix I CITES.***

