Kolaborasi Desa Tibubeneng dan Ginting Institute Dorong Kesadaran Sampah Sejak Dini

Bertepatan Hari Bumi Sedunia, Rabu (22/4/2026), Desa Tibubeneng berkolaborasi dengan Ginting Institute meluncurkan program pendidikan lingkungan berbasis siswa sekolah dasar, berfokus pada pengenalan, pemilahan dan pengolahan sampah sejak dini.

22 April 2026, 11:14 WIB

Badung  – Persoalan sampah yang mengganggu citra Bali sebagai destinasi pariwisata dunia mendorong Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, mengambil langkah konkret.

Bertepatan Hari Bumi Sedunia, Rabu (22/4/2026), Desa Tibubeneng berkolaborasi dengan Ginting Institute meluncurkan program pendidikan lingkungan berbasis siswa sekolah dasar, dengan fokus pada pengenalan, pemilahan, dan pengolahan sampah sejak dini. Program akan mulai dijalankan pada Juni 2026.

Inisiatif tersebut merupakan hasil rapat koordinasi antara pemerintah desa, unsur pemuda, dan jajaran Ginting Institute dari Jakarta pada 17 April lalu.

Pertemuan dihadiri Kepala Desa Tibubeneng Made Kamajaya, perwakilan pemuda, Dewan Pembina Ginting Institute Daniel dan Quoriena Ginting, serta Direktur Eksekutif Sisi Suhardjo bersama tim.

Kepala Desa Made Kamajaya menyebut kolaborasi ini sebagai langkah strategis memperkuat gerakan lingkungan yang telah dijalankan di desanya.

“Program pendidikan peduli sampah bagi siswa SD menjadi upaya penting untuk menanamkan kesadaran sejak dini,” ujarnya. Ia menambahkan, Desa Tibubeneng sebelumnya telah melaksanakan aksi bersih pantai, pengawasan dan pemilahan sampah di tingkat banjar, serta pendekatan langsung kepada masyarakat.

Dalam kerja sama ini, Ginting Institute akan menyediakan materi ajar dan pelatihan bagi pengajar dengan melibatkan sekaa teruna-teruni (STT) dan karang taruna.

Program diharapkan melahirkan kader lingkungan hidup yang mampu menyebarkan edukasi pengelolaan sampah berkelanjutan. Made Kamajaya menekankan pentingnya pengelolaan sampah dari rumah tangga sebagai langkah awal menekan persoalan sampah.

Dewan Pembina Ginting Institute, Daniel Ginting, menilai pendidikan lingkungan di sekolah dasar krusial untuk membentuk etika kebersihan dan kesadaran jangka panjang.

Menurutnya, pemahaman sejak dini akan mendorong anak menjaga lingkungan dan menghargai ruang bersama. Program ini akan mengajarkan prinsip 4R (reduce, reuse, recycle, replace/refuse) melalui buku interaktif, permainan edukatif, dan aktivitas praktis.

Menariknya, pendekatan seni turut diintegrasikan. Seniman Made Bayak akan mengajarkan pengolahan limbah plastik menjadi karya seni, sementara kartunis Jango Pramartha bersama Bog Komunikartun memberikan workshop visual berbasis kartun. Hasil karya siswa akan dipamerkan di ruang kreatif, termasuk Wija Reksa Art Hub & Residency, memperkuat posisi desa sebagai pusat kolaborasi kreatif lokal hingga internasional.

 

Berita Lainnya

Terkini