Denpasar – Koalisi Bali Emisi Nol Bersih bekerja sama dengan Minikino meluncurkan Lensa Iklim Bali, sebuah program fellowship film pendek yang mengajak sineas muda untuk bercerita tentang iklim guna mengangkat narasi dan perspektif lokal.
Medium film yang bisa ditelusuri lebih lanjut pada https://minikino.org/lensaiklimbali/
Dampak krisis iklim bukan lagi isu yang jauh dari masyarakat Bali. Persoalan sampah, mobilitas, energi, hingga abrasi, berbagai tantangan lingkungan kini semakin terasa dan membutuhkan ruang untuk direspon secara terbuka.
Program ini membuka kesempatan bagi lima kelompok produksi terpilih masing-masing terdiri dari produser, penulis, dan sutradara untuk mendapatkan pelatihan, pendampingan dari mentor profesional, serta dukungan produksi guna menghasilkan film pendek yang berangkat dari isu dan pengalaman nyata di Bali.
Dalam sesi sosialisasi yang diselenggarakan secara daring, Communications Specialist Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, Aisyah Madeleine, menjelaskan bahwa aksi iklim membutuhkan lebih banyak cerita yang mampu menjembatani isu-isu kompleks dengan pengalaman masyarakat sehari-hari.
“Kita sering membicarakan perubahan iklim melalui angka, data, atau target kebijakan. Padahal, di balik semua itu ada cerita manusia, ada komunitas, dan ada pengalaman yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Melalui Lensa Iklim Bali, kami ingin membuka ruang bagi lebih banyak orang untuk menceritakan perspektif mereka tentang masa depan Bali dan tantangan iklim yang sedang kita hadapi bersama,” ujar Aisyah.
Direktur Program Minikino, Fransiska Prihadi, menilai film pendek memiliki kekuatan untuk menghadirkan isu-isu yang sering dianggap rumit menjadi lebih personal dan mudah dipahami.
“Film memiliki kemampuan untuk menghubungkan data dengan emosi. Ketika seseorang melihat cerita yang relevan dengan kehidupan mereka, isu yang tadinya terasa jauh menjadi lebih dekat dan bermakna. Kami berharap program ini dapat melahirkan karya-karya yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menggerakkan percakapan dan refleksi publik,” ungkap Fransiska.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kino Media, I Made Suarbawa, menekankan pentingnya memperluas partisipasi masyarakat dalam percakapan mengenai masa depan Bali.
“Kami ingin memberi ruang bagi generasi baru pembuat film untuk menangkap perubahan yang sedang terjadi di sekitar mereka sekaligus menawarkan harapan dan kemungkinan-kemungkinan baru bagi masa depan Bali,” tegas Suarbawa.
Peserta yang terpilih nantinya akan mengikuti rangkaian workshop, mentoring, dan proses produksi film dengan fokus pada berbagai isu iklim yang relevan dengan konteks Bali, seperti pengelolaan sampah berbasis komunitas, mobilitas berkelanjutan, transisi energi, hingga berbagai praktik adaptasi dan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim.
Pendaftaran Lensa Iklim Bali ditutup pada 16 Juni 2026 pukul 17:00 WITA dan dapat diakses melalui situs resmi program: https://minikino.org/lensaiklimbali/
Lima film pendek yang dihasilkan akan diputar pada Minikino Film Week 12 Bali International Short Film Festival dan Pekan Iklim Bali guna memperluas pemahaman masyarakat terhadap berbagai upaya aksi iklim yang telah dan sedang dilakukan di Bali.***

