Sleman -Fenomena kemunculan api misterius di Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman masih belum berakhir. Sudah lebih dari seminggu sejak Jumat (23/5), api terus muncul secara acak.
Hingga Kamis (4/6/2026), tercatat sudah ada 91 kejadian kebakaran kecil di lokasi tersebut.
Kepala BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, mengungkapkan intensitas api masih cukup tinggi.

“Total sudah 91 kali kejadian. Rinciannya 83 kali sampai kemarin, ditambah 5 kali pagi ini, dan 3 kali semalam,” ujarnya.
Bambang yang sempat meninjau langsung lokasi kejadian menceritakan api memang muncul tiba-tiba.
Berdasarkan informasi dari tim peneliti, kawasan tersebut dulunya merupakan lahan rawa yang kemudian diuruk untuk pemukiman.
Api ini tidak membakar sembarang benda. Biasanya, api muncul pada material seperti kain, kayu kering, atau benda yang sebelumnya lembab lalu mengering.
Tim ahli menduga adanya kandungan gas—seperti hidrogen atau gas rawa—yang terjebak di rumah tersebut, terutama di area yang minim ventilasi.
Kondisi saat ini cukup mengkhawatirkan karena api mulai merembet ke area sekitar. Selain rumah utama, dua bangunan di samping dan belakang rumah tersebut kini juga mulai terdampak.
Petugas sebenarnya sudah memasang alat penyedot udara (blower) di lokasi untuk membuang akumulasi gas, namun api masih saja muncul di titik-titik yang sirkulasi udaranya kurang baik.
Akibat kejadian ini, warga terdampak terpaksa mengungsi ke tempat saudara atau ruko kosong. Bahkan, ada warga yang sempat harus tidur di area terbuka karena trauma dan tidak bisa bekerja.
Untuk menangani masalah ini, BPBD Sleman telah menggandeng banyak pihak, mulai dari Basarnas, BPPTKG, BRIN, TNI/Polri, hingga pakar dari UGM dan UPN Veteran Yogyakarta untuk meneliti penyebab pasti fenomena ini.
BPBD juga tengah menyiapkan bantuan sosial dan dukungan psikologis bagi warga yang terdampak.
Terkait wacana penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Khusus, pihak BPBD mengaku masih berhati-hati.
Semuanya akan sangat bergantung pada hasil kajian ilmiah dan rekomendasi dari para ahli yang saat ini masih bekerja di lapangan.
“Kita masih menunggu rujukan dari tim ahli. Karena sampai saat ini kesimpulannya memang belum mengerucut pada satu penyebab mutlak,” tutup Bambang. ***

