KPAI: Kasus Kekerasan Daycare di Yogyakarta Jadi yang Terbesar di Indonesia

KPAI menilai dugaan kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha, Umbulharjo, Yogyakarta, sebagai kasus luar biasa dengan jumlah korban terbanyak di Indonesia.

28 April 2026, 04:00 WIB

Yogyakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai kasus dugaan kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, sebagai kasus luar biasa dengan jumlah korban terbanyak di Indonesia.

Skala kasus ini tercatat melampaui insiden serupa yang pernah terjadi di Depok, Pekanbaru, hingga Jakarta.

Komisioner KPAI RI, Diyah Puspitarini, mengungkapkan, laporan ini merupakan pengaduan kelima terkait daycare bermasalah dalam tiga tahun terakhir.

Namun, jumlah anak terdampak di Yogyakarta mencapai angka signifikan, yakni 103 anak, dengan 53 di antaranya telah terdata resmi. Seluruh korban kini membutuhkan pendampingan psikososial.

Berbeda dengan kasus di wilayah lain yang cenderung spontan, Diyah menyebut kekerasan di Little Aresha diduga dilakukan secara terorganisir.

KPAI menemukan indikasi adanya pola sistematis, termasuk aturan ketat yang melarang pihak luar masuk serta tindakan mengikat anak secara bersamaan.

Atas temuan tersebut, KPAI mendesak percepatan proses hukum sesuai Pasal 50 9A Undang-Undang Perlindungan Anak.

Empat poin krusial yang ditekankan meliputi: percepatan penegakan hukum, pendampingan psikologis segera, bantuan sosial, serta perlindungan hukum bagi korban dan keluarga.

KPAI juga menyoroti, mayoritas daycare bermasalah tidak memiliki izin operasional resmi, termasuk kasus di Yogyakarta. Hal ini menjadi alarm keras bagi pengawasan lembaga pengasuhan anak.

Meski demikian, Diyah mengapresiasi langkah cepat Polresta Yogyakarta, KPAID, DP3 Provinsi DIY, serta Wali Kota Yogyakarta dalam menangani kasus ini.

Diyah berpesan agar orang tua lebih selektif dan waspada dalam memilih tempat penitipan anak.

“Ke depan, seluruh daycare harus memiliki izin operasional sebagai bentuk proteksi bagi anak Indonesia,” tegas Diyah.

Berita Lainnya

Terkini