Megawati Sentil Dunia Seni Indonesia: ‘Sekarang Tidak Ada Lagi Maestro, Menari Harus Pakai Roh!’

Megawati mengaku prihatin dengan minimnya sosok maestro seni baru yang bisa jadi inspirasi bagi generasi muda.

7 Juni 2026, 06:51 WIB

Bantul– Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyoroti kondisi dunia seni di Indonesia yang dinilainya mulai kehilangan “jiwa”.

Dalam pembukaan pameran seni rupa “Mata Hati Soekarno” di Le Gareca Space, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026), Megawati mengaku prihatin dengan minimnya sosok maestro seni baru yang bisa jadi inspirasi bagi generasi muda.

“Mohon maaf, sekarang ini kok rasanya sudah tidak ada lagi maestro. Siapa coba? Ayo, coba sebutkan,” ujar Presiden ke-5 RI ini di hadapan para tamu undangan.

Bagi Megawati, seni bukan sekadar tontonan atau hiburan semata. Ia percaya bahwa seni adalah alat penting untuk membangun karakter dan sisi kemanusiaan seseorang.

Karena itu, ia mendorong para orang tua untuk mengenalkan seni pada anak sejak dini, misalnya dengan belajar menari sejak usia lima tahun.

Mengenang masa kecilnya yang akrab dengan dunia seni, Megawati bercerita bahwa ia dulu belajar menari dari berbagai daerah, mulai dari Bali, Sunda, Jawa, hingga Sumatera. Namun, ia melihat ada perbedaan besar dengan kondisi saat ini.

Menurutnya, banyak penari muda sekarang yang sangat mahir secara teknik, tetapi kehilangan “roh” dalam tariannya.

“Dulu, maestro mengajarkan kami menari dengan rohnya. Jadi, rohnya itu ikut menari. Sekarang, hal seperti itu yang hilang,” kritiknya.

Megawati juga mengingatkan agar sanggar seni atau padepokan harus terus hidup dan terbuka untuk masyarakat luas, bukan hanya eksklusif bagi kalangan tertentu saja.

Ia memberikan peringatan keras bahwa jika generasi muda mulai abai terhadap kesenian tradisional seperti wayang atau tari daerah, rasa nasionalisme mereka bisa terancam.

“Kalau anak-anak kita tidak bisa merasakan getaran jiwa dari seni, itu bahaya. Budaya dan seni itu adalah salah satu cara kita membangun nasionalisme,” tegasnya.

Tak lupa, ia juga berpesan kepada para seniman agar lebih peduli dengan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Megawati menekankan pentingnya mendaftarkan karya seni agar tidak dicuri atau diklaim oleh pihak asing.

Pameran “Mata Hati Soekarno” sendiri akan berlangsung selama sebulan penuh, dari 6 Juni hingga 6 Juli 2026.

Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menjelaskan, acara ini menampilkan karya dari 47 perupa yang mencoba merespons pemikiran dan perjalanan hidup Bung Karno.

Pembukaan pameran ini tampak meriah dengan kehadiran sejumlah tokoh nasional, di antaranya Mahfud MD, Ganjar Pranowo, Hasto Wardoyo, Endah Kuntariningsih, Rano Karno, serta seniman legendaris Butet Kartaredjasa. ***

Berita Lainnya

Terkini