Jakarta -Kenaikan harga BBM non-subsidi, seperti Pertamax yang kini menyentuh Rp16.250 per liter, memang menjadi tantangan tersendiri bagi dompet masyarakat. Fenomena antrean panjang di SPBU untuk mendapatkan Pertalite pun tak terhindarkan seiring upaya konsumen menekan biaya harian.
Namun, benarkah beralih ke BBM subsidi adalah solusi tepat?
Tulus Abadi, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), menilai kepanikan konsumen untuk beralih ke BBM dengan RON yang lebih rendah (Pertalite) justru berisiko menjadi “bumerang” finansial.
“Kendaraan keluaran setelah tahun 2000 pada dasarnya sudah didesain untuk BBM dengan RON 92.
Jika dipaksakan menggunakan Pertalite yang RON-nya 90 secara terus-menerus, kinerja mesin akan terganggu,” ujar Tulus.
Menurutnya, penggunaan BBM yang tidak sesuai spesifikasi akan memicu mesin “ngelitik”, performa menurun, hingga risiko kerusakan fatal yang mengharuskan pemilik kendaraan melakukan turun mesin.
“Jika mesin sudah jebol, biaya perbaikannya akan jauh lebih mahal daripada selisih harga BBM yang ingin dihemat sekarang,” tambahnya.
Tulus menjelaskan bahwa kebijakan penyesuaian harga ini merupakan keniscayaan ekonomi.
Indonesia saat ini mengimpor sekitar 60 persen kebutuhan BBM harian atau sekitar 900 ribu barel per hari.
Dengan harga minyak mentah dunia yang mencapai 106 dolar AS per barel ditambah kurs Rupiah yang fluktuatif, menjaga harga di bawah keekonomian menjadi beban berat bagi operator.
Data menunjukkan bahwa Pertamina sempat menanggung kerugian hingga Rp197 miliar per hari akibat disparitas harga Pertamax.
Sesuai UU BUMN, operator energi memang dituntut untuk menjaga harga yang realistis agar pasokan tetap terjamin dan perusahaan tetap sehat.
Daripada memaksakan diri “berperang” di antrean Pertalite, Tulus menyarankan langkah yang lebih rasional untuk menjaga kesehatan keuangan rumah tangga:
Review Pengeluaran Tersier: Tulus menyoroti pengeluaran non-pokok, seperti rokok. “Satu bungkus rokok sekitar Rp20.000, itu sudah bisa membeli satu liter lebih Pertamax.
Dengan mengatur ulang prioritas pengeluaran, masyarakat kelas menengah bisa beradaptasi dengan kenaikan BBM,” jelasnya.
Optimalisasi Transportasi Masal: Bagi warga di kota besar seperti Jabodetabek, beralih ke moda transportasi seperti MRT, LRT, KRL, atau Transjakarta adalah langkah paling solutif untuk menghemat pengeluaran transportasi bulanan.
Loyalitas dan Tuntutan Layanan: Tulus menekankan bahwa bagi konsumen yang tetap setia menggunakan BBM non-subsidi, Pertamina harus memberikan nilai tambah.
“Kami mendorong Pertamina memberikan jaminan pelayanan yang lebih baik, mulai dari akurasi takaran hingga kebersihan fasilitas umum di SPBU, sebagai bentuk kompensasi bagi loyalitas konsumen,” tutup Tulus.
Pada akhirnya, menghitung biaya per kilometer jauh lebih bijak daripada hanya melihat harga per liter di papan SPBU.
Dengan memilih BBM yang sesuai spesifikasi mesin, pengeluaran jangka panjang justru cenderung lebih hemat dan performa kendaraan lebih terjaga. ***

