Ancaman Kelaparan 2050: Akademisi UGM Ingatkan Risiko Konflik Pangan Dunia

Pada 2050, manusia hanya akan dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama pahit: bertarung memperebutkan makanan dengan sesama atau terpaksa menjadi pengungsi demi bertahan hidup,

12 Juli 2026, 07:15 WIB

Yogyakarta – Masa depan bumi diprediksi akan berada dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan pada tahun 2050 mendatang.

Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D., IPU., memberikan peringatan kera manusia terancam menghadapi krisis pangan ekstrem jika tidak ada perubahan nyata terkait kerusakan lingkungan saat ini.

Dalam pidato purna tugasnya di Auditorium SGLC FT UGM, Jumat (10/7/2026), Prof. Sudaryono mengungkapkan bahwa gaya hidup dan eksploitasi energi fosil sejak era revolusi industri telah meninggalkan “hutang” besar bagi peradaban.

Ia menyoroti, separuh emisi karbon yang ada di atmosfer saat ini merupakan hasil dari kerusakan lingkungan yang terjadi dalam 30 tahun terakhir saja.

Tanpa langkah mitigasi yang serius, Prof. Sudaryono memprediksi masa depan yang suram bagi generasi mendatang.

“Pada 2050, manusia hanya akan dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama pahit: bertarung memperebutkan makanan dengan sesama atau terpaksa menjadi pengungsi demi bertahan hidup,” ujarnya.

Menurutnya, krisis ini bukan sekadar masalah lingkungan biasa, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup manusia secara keseluruhan.

**Peran Penting Ilmu Teknik**

Di sisi lain, Prof. Sudaryono juga menantang para akademisi, khususnya di bidang teknik, untuk melakukan refleksi. Ia mengakui adanya paradoks di mana ilmu teknik di satu sisi sangat membantu peradaban, namun di sisi lain sering kali menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan.

Ia menekankan bahwa ilmu teknik harus lebih bertanggung jawab dan adaptif. “Tidak ada pilihan lain selain berubah. Fakultas Teknik memiliki peluang besar untuk menjadi lebih tangguh dalam menjawab tantangan ini,” tegasnya.

Acara yang dipimpin oleh Dekan FT UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU., ini menjadi momen refleksi atas dedikasi panjang Prof. Sudaryono.

Prof. Selo mengenang sosok seniornya tersebut sebagai mentor yang sangat mengedepankan empati dalam kepemimpinan.

Senada dengan hal tersebut, rekan sejawatnya, Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D., menilai bahwa kontribusi terbesar Prof. Sudaryono bukan sekadar karya tulis atau riset, melainkan inspirasi cara pandang dalam memahami realitas kehidupan manusia yang penuh dengan tantangan. ***

Berita Lainnya

Terkini