Badung– Pengajian rutin Ahad Pagi kembali digelar dengan hangat di Gedung Serba Guna Al Fattah, Sading, Mengwi, Badung, Minggu (12/7/2026).
Kajian yang dihadiri oleh jamaah setempat ini menghadirkan Ustaz Fajar Firdausi yang mengulas topik penting seputar fikih ibadah, yakni tata cara tayamum yang benar menurut tuntunan Rasulullah SAW.
Dalam penjelasannya, Ustaz Fajar memberikan pencerahan mengenai berbagai keraguan yang sering muncul di tengah masyarakat terkait tayamum, terutama mengenai batasan anggota tubuh yang harus diusap.
Ustaz Fajar menjelaskan, tayamum adalah bentuk kasih sayang Allah SWT bagi umat-Nya saat kondisi tidak memungkinkan untuk menggunakan air.
“Tayamum adalah solusi rahmat Allah ketika kita berhalangan menggunakan air, baik karena sakit maupun ketiadaan air,” jelas Ustaz Fajar.
Salah satu poin menarik yang dibahas adalah niat tayamum. Ia menekankan bahwa tayamum dilakukan untuk mengangkat hadas, baik hadas kecil maupun besar.
Jika seseorang berniat menghilangkan hadas kecil padahal ia memiliki hadas besar, tayamum tersebut tetap sah untuk mengangkat keduanya, karena esensi tayamum adalah pengganti bersuci dari hadas.
Perdebatan klasik mengenai sampai di mana batasan mengusap wajah dan tangan saat tayamum juga tak luput dari pembahasan.
Ustaz Fajar merujuk pada pandangan Imam Syafi’i yang sangat menghormati hadis sahih.
“Imam Syafi’i berprinsip, jika ada hadis yang sahih, maka itulah mazhabku,” ujar Ustaz Fajar.
Terkait batasan tayamum, ia menjelaskan bahwa untuk bagian wajah, cukup mengusap bagian yang tampak saja. Begitu pula untuk tangan, cukup sampai pergelangan, tidak perlu sampai ke siku.
Ia juga menyoroti pentingnya kehati-hatian agar tidak berlebihan dalam mengusap, seperti meratakan debu pada rambut jenggot yang tidak diwajibkan secara syariat.
Selain itu, Ustaz Fajar menekankan tayamum adalah ibadah yang praktis dan tidak perlu dipersulit. Ia memberikan beberapa poin penting untuk diingat jamaah:
Urutan:Tertib dalam tayamum (wajah lalu tangan) adalah hal yang disyariatkan.
Efisiensi: Mengusap cukup dilakukan secara merata tanpa harus berlebihan.
Kesederhanaan:Tidak perlu melakukan gerakan tambahan yang tidak diajarkan, seperti memejamkan mata atau gerakan berputar-putar yang berlebihan.
Kajian ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana jamaah antusias menanyakan berbagai kondisi spesifik di lapangan terkait bersuci.
Melalui kajian ini, diharapkan masyarakat Sading dapat menjalankan ibadah dengan lebih yakin dan sesuai dengan tuntunan yang benar, sehingga kualitas ibadah sehari-hari menjadi lebih baik.***

