Badung – Jika biasanya kita melihat sampah sebagai persoalan yang membosankan, Desa Tibubeneng kini punya cara baru yang jauh lebih berwarna untuk menghadapinya.
Lewat kolaborasi apik antara Ginting Institute dan Pemerintah Desa Tibubeneng, sebuah ruang kreatif bernama Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency (WRQ) resmi dibuka untuk publik.
WRQ hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai ‘rumah bersama’ bagi seniman, anak muda, hingga warga desa untuk berdialog dan mencari solusi lingkungan melalui kacamata seni.
Pendiri Ginting Institute, Daniel Ginting, punya visi besar di balik berdirinya hub ini.
Ia ingin seni tidak hanya berhenti di bingkai pameran, tetapi benar-benar menyatu dengan denyut nadi masyarakat.
“Seni harus bisa membangun empati dan memicu aksi nyata. Di sini, kami ingin semua orang—seniman maupun warga—duduk bersama untuk merancang perubahan desa yang lebih berkelanjutan,” ungkapnya.
Konsep ini sangat didukung oleh Kepala Desa Tibubeneng, I Made Kamajaya.
Baginya, pendekatan budaya adalah kunci untuk mengubah perilaku masyarakat terkait kebersihan.
“Kita tidak lagi bicara soal imbauan kaku. Lewat seni, pesan kebersihan lingkungan jadi lebih mudah diterima dan terasa dekat di hati warga,” jelasnya.
Program yang diusung dalam peresmian ini memang sangat menyentuh akar rumput.
Sebelum meresmikan gedung, program Tibubeneng Sustainable Art telah lebih dulu menyambangi sekolah-sekolah melalui edukasi ‘Ayo Peduli Sampah’.
I Gede Rai Wina Kusuma, Kepala Sekolah SDN 2 Tibubeneng, menyaksikan sendiri dampaknya.
Ia menyebut program ini sebagai investasi berharga. “Anak-anak kini paham tentang prinsip 4R dan bahaya limbah. Mereka tidak hanya belajar di sekolah, tapi juga membawa kebiasaan baru ini pulang ke rumah,” katanya bangga.
Bagi Anda yang ingin merasakan langsung semangat ini, WRQ kini sedang menggelar pameran kolaboratif yang sangat menarik.
Pengunjung bisa melihat karya kreatif siswa SD yang bersanding dengan karya para seniman besar seperti Made Wianta, Jango Pramartha, Made Bayak, hingga Gus Surya Dharma.
Melalui pameran ini, kita diajak merenung tentang hubungan manusia dengan alam, serta bagaimana material yang tadinya tidak bernilai bisa disulap menjadi karya yang memantik kesadaran baru.
Pameran Tibubeneng Sustainable Art ini terbuka untuk umum dan berlangsung hingga 30 Juni 2026.
Yuk, agendakan akhir pekan Anda untuk mampir ke Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency di Desa Tibubeneng, Kuta Utara. Selain bisa menikmati karya seni, Anda juga bisa ikut mendukung gerakan desa yang lebih bersih dan kreatif! ***

