Gianyar – Co-founder Tuksedo Studio, Laksmana Gusti Handoko, menegaskan Tuksedo Artistic Festival (TAF) 2026 hadir dengan nuansa berbeda dibanding festival kreatif lain di Bali.
Festival ini, yang digelar bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, lahir dari gagasan Tuksedo Studio yang berdiri sejak 2020.
Gusti Handoko melihat potensi besar dari tangan-tangan seniman Bali yang mampu menghasilkan karya bernilai tinggi, sehingga ia ingin menghadirkan ruang apresiasi yang tidak hanya berfokus pada pariwisata dan hospitality, tetapi juga pada dunia handcraft dan produksi kreatif.

TAF 2026 digelar di Desa Lembeng, Ketewel, dengan konsep unik: sebuah festival seni di bengkel mobil, bukan di ruang pameran konvensional.
Menurut Gusti Handoko, hal ini menjadi pembeda sekaligus simbol industrial yang menekankan posisi seniman sebagai pusat sorotan, sementara pengunjung menyesuaikan diri dengan kebutuhan para kreator.
Festival ini merangkul UMKM, pengrajin, dan seniman rupa, menghadirkan karya yang dikurasi bukan berdasarkan harga, melainkan inspirasi.

Selain pameran mobil karya Tuksedo Studio, festival ini juga membuka ruang komersial untuk produk-produk seni dengan harga terjangkau, agar masyarakat luas dapat ikut menikmati sekaligus mengapresiasi.
Ia menekankan seni adalah unsur utama yang membuat sebuah karya bernilai tinggi, bukan sekadar fungsi.
Dengan dua segmen—eksklusif dan komersial—TAF 2026 diharapkan menjadi wadah inklusif yang menginspirasi masyarakat Bali untuk berani berkarya, menjual, dan mengapresiasi seni sebagai bagian dari kehidupan.
Frans Mauland salah seorang peserta pameran produk kerajinan tenun Sumba NTT mengaku pertama kali ikut TAF 2026
Distributor kain tenun Atma Pahudu Sumba NTT itu menjual berbagai tenun Laki-laki dan perempuan mulai harga Rp.125.000.
“Kehadiran kami di pameran ini untuk menyemarakkan festival dan bisa mempromosikan kain Sumba supaya dikenal sampai mancanegara,” imbuhnya. ***

