Yogyakarta– Para pencinta lari lintas alam alias trail run harus bersiap! Ajang bergengsi UGM Trail Run 2026 bakal kembali digelar pada 26 September 2026 mendatang.
Berpusat di Gelora Hargobinangun, Kaliurang, Sleman, event tahunan dalam rangka Dies Natalis UGM ini diprediksi bakal lebih meriah dan menantang dari tahun-tahun sebelumnya.
Tahun ini, panitia menargetkan 4.000 peserta untuk memadati jalur lereng Gunung Merapi.
Menariknya, ajang ini tidak hanya diikuti pelari domestik, tapi juga pelari internasional dari Eropa seperti Belarus dan Ceko, hingga perwakilan dari Jepang. Bahkan, kabarnya para pelari dari satuan Kopassus juga siap unjuk gigi di lintasan.
Ketua Panitia UGM Trail Run 2026, Budi Susila, menegaskan event kali ini mengusung tiga pilar utama: Run, Edu, dan Care.
“Tema tahun ini digali lebih dalam. Kami tidak hanya memfasilitasi hobi, tapi juga memberikan edukasi keselamatan lewat kolaborasi dengan RSUP Dr. Sardjito, BMKG, hingga TNGM,” ujar Budi.
Di sisi sosial (Care), panitia menargetkan penggalangan dana beasiswa bagi mahasiswa sebesar Rp 1 miliar—dua kali lipat dari capaian tahun lalu. Jadi, peserta yang ikut berlari otomatis ikut berkontribusi dalam dunia pendidikan.
Race Director UGM Trail Run 2026, Roostian, mengungkapkan ada kategori baru yang bakal menguji adrenalin, yakni jarak 77 KM.
Kategori ini menggunakan sistem estafet (relay) empat orang dengan syarat wajib adanya kesetaraan gender dalam tim.
Untuk kategori individu, tersedia pilihan jarak 7K, 15K, 30K, hingga 50K. Bagi pelari jarak jauh, mereka akan merasakan pengalaman unik berlari di malam hari.
“Sensasi lari malam di daerah Merapi itu sangat khas; ada suara-suara alam, dan jika beruntung bisa melihat pemandangan lahar pijar. Itu experience yang tidak ada di tempat lain,” ungkap Roostian.
Terkait dinamika politik, pihak panitia menegaskan bahwa event ini sepenuhnya untuk umum dan netral. Tidak ada pengawalan khusus bagi pejabat yang ikut serta agar semangat sportivitas tetap terjaga.
Selain itu, Roostian juga meluruskan soal aturan biaya protes sebesar Rp 500.000. Menurutnya, ini adalah standar internasional untuk menjaga agar protes dilakukan secara rasional dan tertib. “Uangnya akan dikembalikan utuh jika protes pelari terbukti benar,” tegasnya.
**Diplomasi Lewat Olahraga**
Wakil Rektor UGM, Dr. Arie Sudjito, menambahkan bahwa UGM Trail Run bukan sekadar ajang adu kecepatan. “Ini adalah instrumen diplomasi untuk memperkenalkan keindahan alam dan keramahan Indonesia ke mata dunia,” tuturnya.
Bagi para pelari pemula, jangan khawatir! Panitia memastikan jalur telah dirancang sedemikian rupa agar aman. Jadi, bagi Anda yang ingin menjajal sensasi lari di lereng gunung dengan pemandangan kelas dunia, UGM Trail Run 2026 adalah agenda wajib di bulan September nanti.***

