Surabaya– Perjalanan panjang napak tilas sejarah dan seni lintas generasi akhirnya mencapai garis akhir. Rangkaian pemutaran film dokumenter fiksi Roots karya sutradara internasional Michael Schindhelm resmi merampungkan turnya di Pulau Jawa, dengan Kota Surabaya sebagai lokasi penutupan yang meriah.
Mengusung tajuk Roots Tour de Java, pemutaran yang memotret seratus tahun perjalanan Walter Spies di Bali ini sukses menyedot perhatian lintas elemen, mulai dari pelaku seni, akademisi, aktivis lingkungan, hingga generasi muda.
Sebelum berlabuh di Surabaya—dengan titik pemutaran di STKW Surabaya serta Zumen Art Studio Purimas—perjalanan ini telah menyusuri berbagai kota penting seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Banyuwangi, hingga Jember sejak akhir Agustus lalu.

Film berdurasi dokumenter fiksi ini tidak hanya menyoroti kebangkitan Bali menjadi Eldorado pariwisata global melalui kacamata sang seniman Jerman Walter Spies, tetapi juga membongkar sisi lain dari modernisasi dan upaya gigih masyarakat lokal mempertahankan identitas budaya di tengah gempuran globalisasi.
Yudha Bantono selaku Project Director pemutaran film Roots menjelaskan bahwa pemilihan rute tur ini dirancang secara khusus menyerupai jalur historis kedatangan Walter Spies ke Nusantara pada tahun 1923, yang dimulai dari Batavia, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga akhirnya menetap di Bali.
Menurutnya, respons yang dituai dari setiap kota penayangan sangat luar biasa dan memicu ruang refleksi yang mendalam bagi masing-masing daerah.

“Minat masyarakat, khususnya penggiat sejarah, seni, budaya, dan lingkungan untuk menantikan film ini diputar kembali di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa sangat tinggi. Ke depan, sedang dirancang program agar film ini juga bisa dinikmati kembali oleh penonton secara luas,” ungkap Yudha di sela-sela penutupan tur di Surabaya.
Antusiasme tinggi juga dirasakan di tingkat lokal. Venta, pendiri Zumen Art Studio Surabaya yang menjadi salah satu titik labuh penutupan, menilai narasi sejarah dan sosial dalam film Roots memiliki daya gugah yang kuat bagi dunia pendidikan seni dan pembentukan karakter generasi muda.
“Film Roots saya kira dapat menempatkan peran penting bagaimana sejarah, ingatan, seni, tradisi, budaya, dan perubahan sosial dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap dunia, sehingga dapat menginspirasi kaum muda agar lebih peka terhadap perubahan di sekitar mereka.
Lebih penting lagi, penonton tidak hanya sekadar diajak untuk memahami sejarah dan apa yang terjdi di Pulau Bali saat ini, tetapi juga merenungkan lingkungan sosial mereka sendiri.
“Lebih penting lagi, film ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana untuk merespons perubahan secara positif,” papar Venta di hadapan para penonton dari kalangan Gen Z dan dewasa.
Senada dengan hal tersebut, akademisi sekaligus pelukis dari STKW Surabaya, Agus Sukamto atau yang akrab disapa Agus Koecing, memandang film ini sebagai pengingat krusial terhadap kondisi kebudayaan lokal di Surabaya saat ini, seperti menyusutnya kantong-kantong kesenian tradisional Ludruk.
Dahulu Ludruk di Surabaya jumlahnya ada tiga ratusan, namun di era sekarang bisa dihitung dengan jari keberadaannya.
“Bila menengok film Roots melalui kisah Walter Spies dan perjuangan masyarakat Bali mempertahankan tradisi dan budayanya di tengah gempuran arus global, ini sangat penting bagi kita untuk menengok kembali apa itu akar, lalu akar yang berupa tradisi budaya itu agar tumbuh dan berkembang, kemudian menjadi milik generasi berikutnya untuk mengembangkannya,” tutur Agus.
Melalui akhir perjalanannya di Kota Pahlawan, Roots Tour de Java meninggalkan catatan penting bahwa seni, arsip sejarah, dan film dokumenter dapat menjadi medium strategis bagi publik untuk membaca ulang realitas zaman, merefleksikan perubahan sosial, serta merawat akar budaya di tengah arus modernisasi yang kian masif. ***

