UGM Dukung Koridor Hijau Tol, AHY Optimistis Kurangi Emisi Karbon

AHY menegaskan Infrastruktur harus dibarengi menjaga lingkungan, tidak boleh hanya fisik juga menyentuh kesejahteraan masyarakat, keberlanjutan bumi

26 April 2026, 17:50 WIB

Sleman – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur di era Presiden Prabowo Subianto tidak boleh hanya berorientasi pada fisik semata, melainkan harus sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Pesan tersebut disampaikan AHY saat memimpin aksi penanaman pohon di Green Corridor Jalan Tol Ruas Prambanan–Purwomartani, Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan ini menjadi implementasi nyata Gerakan Nasional Pengembangan Ruang Terbuka Hijau dan Biru (RTHB) yang merupakan bagian dari visi besar Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).

AHY menekankan pentingnya pendekatan Penta Helix dalam kebijakan pembangunan, agar infrastruktur tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan indeks kebahagiaan masyarakat.

Infrastruktur harus dibarengi dengan semangat menjaga lingkungan. Tidak boleh hanya fisik, tetapi juga menyentuh kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan bumi,” tegasnya.

Ia menambahkan, tantangan ekologis abad ke-21 seperti krisis iklim dan polusi merupakan ancaman nyata bagi kedaulatan bangsa. Karena itu, pembangunan koridor hijau di sepanjang jalan tol menjadi langkah strategis menekan emisi karbon.

“Setiap 100 km Rumija yang ditanami pohon trembesi mampu menyerap sekitar 440 ton CO2 per tahun. Ini bukan teori, melainkan aksi nyata,” ujarnya.

AHY juga mengajak seluruh pihak menjaga sinergi, terutama dalam penyediaan lahan yang clean and clear, agar pembangunan infrastruktur pendukung ketahanan pangan, energi, dan air berjalan lancar.

“Kalau kita sayang anak cucu, mari lakukan ini dengan serius dan berkolaborasi,” katanya.

Terkait progres fisik, AHY optimistis ruas Prambanan–Purwomartani sepanjang 11 kilometer segera difungsikan. Ia menyebut proyek ini akan menjadi game changer bagi konektivitas DIY dan Jawa Tengah.

“Jika selesai, perjalanan Jogja–Solo yang biasanya 2–2,5 jam bisa dipangkas menjadi 35–40 menit,” ungkapnya.

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ova Emilia, turut menyambut baik kolaborasi ini.

Melalui Fakultas Kehutanan, UGM berkomitmen memberikan dukungan saintifik dalam pemilihan vegetasi yang tepat untuk koridor hijau jalan tol.

“Kami akan memastikan tanaman endemik tetap dipertahankan dan mendukung penyerapan karbon secara optimal,” jelasnya. ***

Berita Lainnya

Terkini