Wagub Bali Tegaskan Pemulihan Pariwisata Utamakan Penerapan Prokes

10 September 2020, 22:25 WIB

Wakil Gubernur Bali, Dr Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati/ist

Denpasar – Wakil Gubernur Bali, Dr Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati
menegaskan upaya memulihkan kondisi pariwisata saat pandemi Covid-19 tetap
mengutamakan penerapan protokol kesehatan.

Cok Ace, sapaanya  mengakui, Bali saat ini sedang mengalami lonjakan
kasus covid. Lonjakan ini lebih didominasi oleh transmisi lokal. Upaya
pengendalian melalui pengenaan denda bagi yang tidak menggunakan masker lebih
bertujuan pada upaya membangun kesadaran masyarakat.

Menurut Cok Ace, pariwisata Bali memang terpuruk akibat covid, namun pemulihan
pariwisata tidak dapat mengabaikan masalah kesehatan.

“Kita tidak memilih ekonomi saja. Kita tidak memilih kesehatan saja, tentu
kesehatan berada pada sisi depan” ujarnya dalam Gala Dinner bersama Wakil
Gubernur Bali, Dr Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, perwakilan negara
sahabat, stekholder pariwisata dan insan media di Grand Inna Bali Beach, Kamis
(10/9/2020).

Cok Ace berharap BIN bisa membantu Bali dalam upaya memulihkan kondisi
pariwisata dengan tetap mengutamakan penerapan protokol kesehatan.

Salah satunya meminta BIN menempatkan satu mobil swab-PCR di bandara Ngurah
Rai. Upaya ini diharapkan dapat membantu mendeteksi penumpang yang terinfeksi
lebih awal.

Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) yang juga Juru Bicara BIN, Dr Wawan
Hari Purwanto menemukan fenomena yang tak pernah dia temukan tentang Bali. Hal
itu dia sampaikan saat memberikan sambuatan.

“Sejak mendarat di Bali beberapa jam yang lalu, saya menjumpai fenomena yang
tidak saya temukan beberapa tahun sebelumnya. Situasi jalanan yang lengang,
sepinya wisatawan, dan ketatnya protokol kesehatan untuk keluar masuk
bandara,” kata Wawan.

“Bali yang ada dalam benak saya sebelumnya adalah sebuah daerah yang penuh
dengan wisatawan domestik dan mancanegara. Bali adalah Jantung Pariwisata
Indonesia yang selalu terjaga siang dan malam,” lanjutnya.

Tapi begitu mendarat, kata Wawan, semua yang ada dalam bayangannya saya kini
harus berubah. Saat ini, kita semua harus dapat menerima bahwa Bali maupun
daerah wisata lainnya di dunia, memiliki wajah yang berbeda dari sebelumnya.

Lebih lanjut Wawan mengatakan, hingga saat ini pandemi Covid-19 masih terus
terjadi dan telah melemahkan berbagai lini kehidupan rakyat maupun
penyelenggaraan negara.

Penyebaran wabah penyakit menular tersebut telah menimbulkan ancaman serius
tidak saja bagi sektor kesehatan rakyat namun juga menghancurkan sektor
lainnya termasuk pariwisata dalam negeri, khususnya Bali. Padahal sektor
pariwisata telah menjadi andalan devisa negara.

Anjloknya dunia pariwisata Bali berimbas pada banyaknya pekerja yang
dirumahkan hingga di PHK. Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja Provinsi Bali,
per Agustus lalu, pekerja yang dirumahkan mencapai 73.631 orang.

Sedangkan yang di PHK sebanyak 2.667 orang. Sementara dari segi pendapatan,
Bali kehilangan Rp 9,7 triliun setiap bulan.

Tekanan berat bagi pariwisata Bali ini, juga tercermin dari kedatangan
wisatawan mancanegara ke Bali. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS)
Bali, pada Juni 2020 tercatat hanya 32 kunjungan atau turun 99,99 persen
dibandingkan dengan kedatangan pada Juni 2019 yang sebanyak 549.516 kunjungan.

Menyikapi kondisi ini, diperlukan kehadiran negara untuk menyelamatkan rakyat
dari ancaman krisis kesehatan, ancaman krisis ekonomi, dan ancaman krisis
kesejahteraan.

Selain itu, dibutuhkan etos kerja yang lebih dari biasanya, kerja-kerja yang
tidak linier, dan terobosan-terobosan berani dalam rangka menekan laju
penularan Covid-19 dan mempercepat pemulihan ekonomi rakyat.

Kebijakan pembukaan pariwisata Bali yang aman berdasarkan protokol Kesehatan
bagi wisatawan domestik yang saat ini berlangung merupakan upaya pemulihan
pariwisata dan perekonomian masyarakat Bali.

“Relaksasi ini tentunya harus diikuti dengan penerapan protokol kesehatan yang
ketat dan konsisten,” katanya menegaskan. (rhm)

Artikel Lainnya

Terkini