Wamen Diktisaintek: Penyerapan Kerja Vokasi Ungguli S1, Tembus 77 Persen

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI, Prof. Stella Christie memaparkan keberhasilan sejumlah negara seperti Tiongkok, Swiss, dan Korea Selatan yang menjadikan vokasi sebagai fondasi utama kemajuan ekonomi.

8 Agustus 2026, 06:30 WIB

Yogyakarta— Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI, Prof. Stella Christie, menegaskan lulusan pendidikan vokasi kini menjadi primadona di dunia kerja dengan tingkat penyerapan yang melampaui pendidikan akademik (S1).

Berdasarkan data tracer study periode 2021–2024, angka penyerapan tenaga kerja lulusan vokasi menyentuh kisaran 77 persen, unggul dari lulusan akademik yang berada di angka 72 persen.  

Pernyataan tersebut disampaikan Stella saat berbicara di hadapan 1.945 mahasiswa baru Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam sesi Talkshow Pionir Permadani di Grha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta.

Ia sekaligus menepis stigma miring yang kerap menganggap pendidikan vokasi sulit terserap di pasar tenaga kerja.

Menurutnya, lanskap industri saat ini sangat membutuhkan sumber daya manusia (SDM) terampil yang siap diterjunkan langsung ke lapangan.  

“Per hari ini, industri dan pasar membutuhkan tenaga kerja terampil yang siap kerja,” ujar Stella.

Ia menambahkan, perguruan tinggi vokasi bertindak sebagai garda terdepan untuk merespons dinamika pasar kerja secara cepat demi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan menarik minat investor.  

Sebagai perbandingan global, Stella memaparkan keberhasilan sejumlah negara seperti Tiongkok, Swiss, dan Korea Selatan yang menjadikan vokasi sebagai fondasi utama kemajuan ekonomi.

Ia mencontohkan Shenzhen Polytechnic University di Tiongkok yang sukses berkolaborasi dengan raksasa global seperti Huawei dan BYD, sehingga mendongkrak pendapatan kawasan Greater Bay Area melampaui total output ekonomi Indonesia.

Sementara itu, lulusan sarjana terapan di Swiss bahkan mampu mengantongi penghasilan hingga 102.114 Franc Swiss (sekitar Rp2 miliar) per tahun.  

Untuk memperkuat daya saing tersebut, Kemdiktisaintek RI berkomitmen mengoptimalkan ekosistem vokasi lewat strategi tiga pilar utama: industry match curriculum, industry match instructors, dan industry match infrastructure.

Salah satu langkah konkretnya diwujudkan melalui program kerja sama beasiswa serta magang nasional maupun internasional dengan industri alat berat asal Tiongkok, LiuGong.

Dalam kesempatan yang sama, Mantan Direktur Utama PT Semen Gresik, Muchammad Supriyadi, turut membakar semangat para mahasiswa baru Sekolah Vokasi UGM.

Ia berpesan agar generasi muda senantiasa berani mengambil keputusan secara bertanggung jawab, memegang teguh integritas, serta menjaga karakter almamater di tengah tantangan global. ***

Berita Lainnya

Terkini