Yogyakarta– Senyum bahagia menghiasi wajah Toviyani Widi Saputri saat melangkah di prosesi Wisuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode I Tahun Akademik 2026/2027.
Di balik toga magisternya, tersimpan kisah perjuangan luar biasa seorang perempuan penyandang disabilitas netra yang berhasil meraih gelar S2 dalam kondisi hamil.
Lulusan Program Magister Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNY ini resmi dinyatakan lulus dengan predikat Cumlaude, menorehkan IPK 3,81 setelah menempuh studi selama dua tahun.
Pencapaian yang tidak hanya membanggakan dirinya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang. Perjuangan di Tengah KeterbatasanMenjalani pendidikan tinggi dengan keterbatasan penglihatan sudah penuh tantangan, ditambah kondisi kehamilan yang membuat fisiknya melemah.
Januari hingga Februari lalu menjadi masa paling berat, ketika Toviyani harus menjalani perawatan intensif hingga dipasang infus. Sebagai penerima beasiswa LPDP, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk bangkit kembali.
“Tidak mudah mengerjakan tesis sekaligus menjadi penerima beasiswa LPDP. Harus komitmen, benar-benar berjuang keras, dan lulus tepat waktu. Kalau saya putus asa dan menyerah, rasanya sayang sekali,” ungkapnya penuhketeguhan.
Di balik keberhasilan Toviyani, ada sosok suami yang setia mendampingi. Misbahul Arifin, yang juga seorang tunanetra, mengambil alih urusan rumah tangga agar sang istri bisa fokus menyelesaikan tesis.
Rasa bangga terpancar dari dirinya melihat perjuangan Toviyani. “Yang pasti saya sangat bangga dan senang. Karena istri saya itu penyandang disabilitas, tetapi ia mampu lulus tepat waktu. Itu menjadi kebanggaan tersendiri,” tuturnya.
Misbahul berharap capaian istrinya dapat membuka jalan bagi iklim pendidikan yang lebih inklusif. “UNY sudah bagus, sangat bagus, dan inklusif. Tapi ke depannya tentu bisa lebih inklusif lagi. Kelompok-kelompok tertentu bisa diprioritaskan, seperti ibu hamil, penyandang disabilitas, dan lansia,” tambahnya.
Keputusan Toviyani melanjutkan pendidikan S2 berawal dari kepedulian sosial. Sebelumnya, lulusan S1 Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Kalijaga ini aktif mendampingi anak-anak penyandang disabilitas.
Ia merasa perlu memperdalam ilmu agar bisa memberi dampak lebih besar.Kini, berbekal gelar Magister Bimbingan dan Konseling, Toviyani bertekad mengabdikan diri sebagai pendidik dan pendamping bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan sesama penyandang disabilitas.
Kisahnya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi, melainkan jalan untuk menginspirasi.***

