Yogyakarta – Jemaah haji asal Kota Yogyakarta akan diberangkatkan menuju Tanah Suci pada musim haji tahun 2026. Menariknya, hampir separuh dari jumlah tersebut merupakan jemaah lanjut usia berusia di atas 65 tahun.
Hal ini disampaikan Ahmad Mustafid, Petugas Pembimbing Ibadah Kloter 6 YIA sekaligus Kasubag TU Kementerian Agama Kota Yogyakarta, dalam acara Pengajian Pamitan Calon Jemaah Haji Kota Yogyakarta 1447 H di Balai Kota Yogyakarta, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan jumlah jemaah tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sekitar 390 orang.
Karena keterbatasan kapasitas per kloter, pemberangkatan harus dibagi ke beberapa kelompok terbang.
Rinciannya, 2 jemaah bergabung dengan Kloter 1 Kabupaten Kulon Progo, 3 jemaah di Kloter 7, sebagian besar di Kloter 26 YIA, serta Kloter 6 yang berisi penuh 354 jemaah ditambah 6 petugas dari Kota Yogyakarta.
Tahun ini juga menjadi sejarah baru karena jemaah asal DIY dan Karesidenan Kedu diberangkatkan melalui Embarkasi YIA, bukan lagi Solo.
Mustafid menekankan fasilitas embarkasi berbasis hotel memberikan kenyamanan lebih, dengan kamar berisi tiga orang dibandingkan 10 orang seperti di Donohudan.
Kloter 26 YIA yang dijuluki “Kloter Sapu Jagad” dijadwalkan berangkat 20 Mei dan tiba di Tanah Suci 21 Mei.
Jemaah di kloter ini diingatkan untuk menyiapkan fisik ekstra karena hanya empat hari setelah kedatangan sudah memasuki puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Mengingat hampir 50 persen jemaah adalah lansia, Kemenag menyiapkan pendampingan berjenjang mulai dari ketua regu hingga tim kesehatan.
Bagi jemaah risiko tinggi dan disabilitas, tersedia skema murur saat mabit di Muzdalifah, yakni tetap berada di dalam bus demi keselamatan.
Selain itu, tim kesehatan mengingatkan jemaah untuk mewaspadai suhu panas di Arab Saudi yang diperkirakan mencapai 30–35 derajat Celsius. Namun, sejak 2019 tenda di Arafah sudah dilengkapi AC untuk kenyamanan.
Di antara ratusan jemaah, terdapat kisah inspiratif dari Sarminia (85), jemaah tertua asal Kota Yogyakarta.
Mantan Lurah Keparakan ini telah menanti keberangkatan selama 15 tahun sejak mendaftar pada 2011.
Meski sempat menjalani pemeriksaan jantung, ia tetap bugar dengan rutin berjalan kaki di sekitar rumah.
Sarminia berpesan agar masyarakat tidak menunda niat berhaji hingga usia lanjut.
“Kalau sudah ada kesempatan, sebaiknya berangkat haji sejak muda. Saya bersyukur diberi izin berangkat tahun ini, semoga diberi kesehatan,” ujarnya penuh haru. ***

