Dua Dunia dalam Satu Kanvas: Perjalanan Made Wiradana Menjadi Pemangku dan Pelukis

Pameran 'Kacarri' menjadi saksi transformasi mendalam seniman Made Wirahadi setelah mengemban tugas sebagai pemangku sejak tahun 2024

11 Juli 2026, 05:38 WIB

Denpasar – Seni lukis dan spiritualitas kini melebur dalam pameran tunggal bertajuk ‘Kacatri’ karya pelukis kenamaan Made Wiradana.

Pameran alumnus ISI Yogyakarta ini Berlangsung di Griya Santrian, Sanur, yang dibuka maestro seni Bali Prof Dr Made Bandem pada Jumat (10/7/2026)

Pameran ini menjadi saksi transformasi mendalam sang seniman setelah mengemban tugas sebagai pemangku sejak tahun 2024.

Dalam pandangan kurator seni, I Made Susanta Dwitanaya, ‘Kacatri’ pameran lukisan biasa.

Ia menyoroti bagaimana peran baru Wiradana sebagai pemangku—yang dalam budaya Bali dipahami sebagai swadharma atau panggilan hidup yang ditakdirkan—telah menyatu dengan praktik artistiknya.

Pameran ini memperlihatkan bagaimana studio dan pura tidak lagi menjadi ruang yang terpisah bagi Wiradana.

“Keduanya kini menjadi bidang pengabdian yang saling mendukung dalam tubuh dan karyanya,” ujar I Made Susanta Dwitanaya.

Menurut Susanta, ciri khas Wiradana yang selama ini dikenal lewat goresan garis spontan dan intuitif tetap terjaga. Namun, kini karya-karya terbarunya membawa kedalaman baru.

Pengalaman keseharian Wiradana yang kini akrab dengan rerajahan (diagram ritual suci), aksara Bali, dan aktivitas ngayah (pelayanan sukarela), telah terserap ke dalam memori tubuh sang pelukis.

Menariknya, Wiradana tidak menjadikan ritual atau simbol suci sebagai objek lukisan untuk dipamerkan.

Sebaliknya, ia membiarkan pengalaman spiritualnya mengalir alami ke dalam idiom visual. Garis-garis pada kanvasnya kini tampak lebih ritmis, dengan gestur yang menyerupai aksara suci, namun tetap mempertahankan spontanitas khas Wiradana.

“Kacatri menandai transformasi kesadaran artistik. Seni bagi Wiradana kini bukan lagi sekadar sarana menciptakan bentuk, melainkan cara ia menjalani ‘swadharma’ atau pengabdian hidupnya,” tambah Susanta.

Pameran ini menjadi refleksi perjalanan batin seorang seniman yang menemukan titik temu antara dunia kreatif dan tanggung jawab kosmologisnya sebagai orang Bali.

Bagi para penikmat seni, Kacatri menawarkan pengalaman menikmati karya yang lahir dari perpaduan disiplin spiritual dan kebebasan berekspresi. ***

Berita Lainnya

Terkini