Investasi Rp3 Triliun, PSEL Bali Siap Ubah Sampah Jadi Cuan dan Energi Hijau

Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Desa Pedungan, Denpasar Selatan, resmi dimulai.

8 Juli 2026, 21:22 WIB

Denpasar– Bali resmi memulai langkah besar untuk menuntaskan masalah sampah. Pada Rabu (8/7), pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Desa Pedungan, Denpasar Selatan, resmi dimulai.

Proyek ini digadang-gadang jadi kunci agar Bali tetap bersih dan nyaman bagi wisatawan maupun warga lokal.

Gubernur Bali, Wayan Koster, mengungkapkan rasa syukurnya karena pembangunan ini akhirnya berjalan.

Ia berharap proyek yang menjadi bagian dari program strategis nasional ini bisa selesai tepat waktu, yakni sekitar Oktober 2027.

“Kalau PSEL ini sudah jadi, masalah sampah di Bali bisa kita tangani sampai tuntas. Ini penting sekali untuk menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata dunia,” ujar Gubernur Koster.

Tidak saja menjadi tempat pembuangan, PSEL Bali menggunakan teknologi moving grate incinerator dengan standar emisi Eropa yang super ketat.

Artinya, polusi bisa ditekan hingga 80 persen dibanding metode pembuangan sampah biasa.

Pembangunan PSEL ini membawa banyak manfaat nyata bagi Bali, di antaranya:

Mampu mengolah 1.500 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik untuk sekitar 100.000 rumah.

Menyerap hingga 1.200 tenaga kerja, baik saat masa konstruksi maupun operasional.

Fasilitas ini didesain dengan sentuhan arsitektur lokal berfilosofi Tri Hita Karana. Nantinya, akan ada visitor center dan jalur edukasi yang bisa dikunjungi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BPI, Rosan Roeslani, serta Menko Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, juga memberikan dukungan penuh.

Mereka kompak menyebut kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, PLN, dan berbagai pihak lainnya adalah kunci cepatnya proyek ini berjalan.

PSEL Bali dirancang menggunakan teknologi moving grate incinerator, teknologi yang telah digunakan secara luas di berbagai negara dan dilengkapi Air Pollution Control System (APCS) berlapis dengan standar emisi Eropa (EU IED).

Teknologi tersebut diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 80 persen dibandingkan metode pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Selain menjadi solusi pengelolaan sampah modern, PSEL Bali juga akan memberikan dampak positif terhadap penyediaan energi hijau dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Fasilitas yang dibangun dengan investasi sekitar Rp3 triliun ini memiliki kapasitas pengolahan 1.500 ton sampah per hari, diproyeksikan mampu memasok kebutuhan listrik bagi sekitar 100.000 rumah, serta menciptakan hingga 1.200 lapangan kerja hijau selama masa konstruksi dan operasional.

Target operasi komersial fasilitas ini dijadwalkan pada Semester I Tahun 2028.

Dengan hadirnya PSEL, Bali tidak hanya berupaya menjadi lebih bersih, tapi juga lebih mandiri dalam energi.

Targetnya, fasilitas ini sudah bisa beroperasi secara komersial pada Semester I tahun 2028.

Langkah ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan Bali agar tetap jadi primadona pariwisata dunia yang berkelanjutan. ***

Berita Lainnya

Terkini