Denpasar – Suasana menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 mulai terasa hangat. Publik kini tengah menyoroti sosok Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, yang santer didorong oleh berbagai kalangan untuk menahkodai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Bukan tanpa alasan, Imam Besar Masjid Istiqlal ini dianggap sebagai ‘paket komplit’.
Perpaduan antara kedalaman ilmu agama sebagai ulama dan wawasan modern sebagai akademisi membuat sosok asal Sulawesi Selatan ini dinilai mampu menjawab tantangan zaman.
Di internal NU, kebutuhan akan sosok pemersatu menjadi sangat penting.
Prof. Nasaruddin dikenal sebagai figur yang netral dan mampu merangkul berbagai elemen.
Diharapkan, dengan kepemimpinannya dapat mengikis sekat-sekat faksi dan memperkuat semangat persatuan di kalangan Nahdliyin.
Dukungan pun datang dari berbagai daerah, termasuk Bali. Ketua MUI Provinsi Bali, H. Mahrusun Hadiyono, mengungkapkan profil Prof. Nasaruddin sangat relevan dengan kebutuhan organisasi saat ini.
“Kami di daerah, apalagi yang hidup dalam harmoni multikultural, melihat beliau adalah jawaban yang tepat. Beliau bukan sekadar ulama yang matang secara intelektual, tapi juga sosok inklusif yang bisa diterima oleh semua kelompok,” ujar Mahrusun saat ditemui di Denpasar, Selasa (7/7/2026).
Selain soal figur, sorotan utama menjelang muktamar kali ini adalah soal perbaikan tata kelola organisasi. Ada semangat besar agar PBNU ke depan dijalankan secara lebih profesional.
Artinya, penempatan posisi harus didasarkan pada kompetensi dan dedikasi nyata, bukan sekadar popularitas atau kedekatan politik.
Tujuannya jelas: agar NU tetap relevan dengan modernitas tanpa harus kehilangan akar tradisi pesantren yang menjadi jati dirinya.
Berdasarkan aspirasi yang berkembang, terdapat empat sektor penting yang diharapkan menjadi prioritas kerja PBNU ke depan:
Pendidikan: Memperkuat pesantren dan perguruan tinggi NU agar mampu mencetak SDM unggul.
Kesehatan: Memperluas akses layanan kesehatan bagi warga Nahdliyin melalui klinik dan rumah sakit yang lebih baik.
Dakwah: Membumikan nilai Islam yang moderat, toleran, dan seimbang dalam kehidupan sehari-hari.
Ekonomi: Fokus pada pemberdayaan ekonomi umat guna mengangkat kesejahteraan masyarakat di segmen menengah ke bawah.
Untuk mewujudkan semua itu, sinergi yang sehat antara PBNU dengan pemerintah dan berbagai pihak sangatlah diperlukan.
Dengan dukungan yang tepat, agenda besar ini diharapkan dapat menjadi mesin penggerak kesejahteraan warga Nahdliyin di seluruh penjuru negeri. ***

