Yogyakarta – Ibadah haji biasanya identik dengan masa tunggu panjang hingga usia senja. Namun, takdir membawa dua anak muda asal Daerah Istimewa Yogyakarta, Asila Metta Rahmadati (23) dan Septia Khoiria (23), menunaikan rukun Islam kelima di usia produktif.
Keduanya sama-sama tak menyangka bisa berangkat ke Tanah Suci tahun ini, meski melalui jalan yang berbeda.
Bagi Asila, keberangkatan kali ini adalah buah kesabaran panjang. Orang tuanya sudah mendaftarkan haji sejak ia duduk di kelas 6 SD, sekitar umur 12 tahun.
Setelah menunggu 15 tahun, akhirnya ia berangkat bersama sang ibu, sementara ayah dan adiknya masih menanti giliran.
Persiapan dilakukan melalui bimbingan KBIH Araudo, mulai dari perlengkapan hingga manasik. Meski bahagia, ia mengaku ada rasa campur aduk karena harus mendampingi ibunya yang kini berusia 53 tahun.
“Pengennya bisa fokus ibadah untuk diri sendiri, tapi juga membersamai orang tua. Semoga bisa saling membantu,” ujarnya.
Berbeda dengan Asila, Septia berangkat haji karena menggantikan almarhum ayahnya yang wafat pada 2020.
Porsi haji yang diperjuangkan sang ayah selama 15 tahun akhirnya dilimpahkan kepadanya. Secara administratif, ia hanya menunggu 5 tahun sebelum bisa berangkat bersama sang ibu.
“Awalnya kaget, di umur segini bisa berangkat haji. Tapi semua ini panggilan Allah, jadi sebisa mungkin dimaksimalkan,” katanya. Septia menekankan persiapan fisik sebagai hal utama, menjaga kesehatan agar tetap bugar di cuaca terik Arab Saudi.
Kisah Asila dan Septia menunjukkan ibadah haji bukan hanya milik mereka yang berusia lanjut.
Di usia muda, keduanya mendapat kesempatan langka untuk menunaikan panggilan suci, sekaligus menjadi bukti bahwa kesabaran dan takdir bisa membawa kejutan indah dalam hidup. ***

