Yogyakarta-Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, angkat bicara terkait insiden dugaan keracunan massal yang menimpa 105 orang dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kulon Progo.
Berdasarkan peninjauannya, Sri Sultan menduga masalah utama bermula dari proses penyimpanan hingga pengolahan bahan makanan—khususnya daging ayam yang menjadi menu utama.
Ia menyoroti rentang waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan penyajian, ditambah fasilitas penyimpanan yang kurang memadai.
“Keracunan yang mungkin terlalu pagi dia masak. Keracunannya makan atau sayur? Ayam. Ya mungkin ayamnya sudah biru,” ujar Sri Sultan di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (23/7/2026).
Sri Sultan menilai pentingnya evaluasi terhadap fasilitas pendingin, seperti freezer, pada unit penyedia makanan agar kualitas bahan baku tetap terjaga sebelum diolah.
“Mungkin tidak punya freezer sebagai stok yang mesinnya dilihat-dilihat kulitnya warna biru. Kalau dimasak jam 2 pagi ya dimakan pagi ya bisa,” tambahnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, Susilaningsih, merinci dari total 105 korban terdampak, rinciannya terdiri atas: 98 siswa. 4 tenaga pendidik, 1 ibu hamil, 2 ibu menyusui
Para korban mayoritas mengeluhkan gejala klasik keracunan, mulai dari nyeri perut, diare, muntah, hingga pusing. Hasil investigasi epidemiologi mencatat rata-rata masa inkubasi sekitar 14 jam 15 menit, dengan rentang tercepat 4 jam dan terlama mencapai 32 jam 45 menit.
Adapun menu MBG yang disajikan saat kejadian meliputi ayam saus barbeque, tahu goreng bawang, dan cah pokcoy.
Berdasarkan penelusuran Dinas Kesehatan, bahan baku ayam sebetulnya diterima oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Minggu (19/7/2026) malam dalam kondisi segar. Bahan tersebut kemudian dimarinasi dan dimasak pada Senin dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.
Namun, makanan tersebut baru dikonsumsi oleh para penerima manfaat pada pagi harinya. Artinya, ada jeda waktu sekitar 8 hingga 10 jam dari proses selesai memasak hingga waktu makan.
“Faktor risiko yang berpotensi berkontribusi salah satunya adalah proses pengelolaan makanan. Ada jeda waktu cukup panjang antara selesai memasak dan waktu konsumsi sekitar 8 sampai 10 jam,” jelas Susilaningsih.
Meski demikian, Dinas Kesehatan Kulon Progo menegaskan bahwa kepastian penyebab keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium resmi dari sampel makanan dan spesimen pasien. Hasil investigasi menyeluruh ini diharapkan menjadi evaluasi total agar tata kelola Program MBG ke depan bisa jauh lebih aman bagi masyarakat. ***

