Denpasar – Industri Jasa Keuangan (IJK) di Provinsi Bali menunjukkan performa yang tangguh di awal tahun 2026. Meski dinamika ekonomi global masih naik-turun, stabilitas keuangan di Pulau Dewata per Februari 2026 justru mencatatkan pertumbuhan positif yang melegakan.
Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman**, mengungkapkan daya tahan ekonomi Bali terlihat dari fungsi intermediasi perbankan yang berjalan efektif, profil risiko yang terkendali, serta likuiditas yang melimpah.
“Kami menilai stabilitas industri jasa keuangan di Bali hingga Februari 2026 tetap resilien. Kredit tumbuh positif, didukung oleh likuiditas yang memadai untuk menopang ekspansi usaha,” ujar Parjiman dalam keterangan resminya di Denpasar, Kamis (30/4).
Satu hal yang menarik perhatian adalah lonjakan pada kredit investasi. Sektor ini tumbuh signifikan sebesar 17,81 persen (yoy) menjadi Rp6,32 triliun. Angka ini membuktikan, para pelaku usaha di Bali mulai berani melakukan ekspansi jangka panjang.
Menurut Parjiman, mesin utama penggerak kredit investasi ini adalah sektor akomodasi, makan, dan minum (akmamin) serta real estat.
“Ini sinyal positif, kepercayaan diri pelaku usaha, terutama di sektor pariwisata dan properti, semakin menguat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Bali ke depan,” tambahnya.
Tak hanya pemain besar, UMKM juga tetap menjadi tulang punggung. Lebih dari separuh kredit di Bali (51,32 persen) mengalir ke kantong pelaku UMKM, dengan dominasi di segmen mikro dan kecil.
Beralih ke sektor pasar modal, masyarakat Bali tampaknya semakin melek investasi. Jumlah investor tercatat tumbuh double digit sebesar 27,02 persen secara tahunan. Hingga Februari 2026, terdapat 381.557 warga Bali yang telah memiliki akun investasi (SID).
Nilai kepemilikan saham mereka pun fantastis, mencapai Rp8,88 triliun atau melonjak 76,57 persen dibanding tahun lalu.
Di balik pertumbuhan yang manis, OJK tetap memberikan catatan waspada. Penyaluran pembiayaan melalui Fintech Peer to Peer (P2P) Lending alias pinjol di Bali tumbuh tinggi mencapai Rp2,20 triliun.
Namun, tingkat kredit macet atau wanprestasi (TWP 90) juga merangkak naik ke angka 4,31 persen.
Parjiman mengingatkan masyarakat agar tidak asal lirik saat melihat tawaran investasi atau pinjaman cepat. Ia menekankan prinsip
2L: Legal dan Logis**.
Pihaknya terus masif melakukan edukasi keuangan ke berbagai lapisan, mulai dari ibu rumah tangga hingga mahasiswa.
Hingga Maret saja, kami sudah menjangkau lebih dari 418 ribu peserta edukasi melalui berbagai program seperti ‘OJK Ngiring ke Banjar’,” jelasnya.
OJK Provinsi Bali juga melaporkan telah menangani 456 pengaduan konsumen di awal tahun ini, yang mayoritas masih didominasi oleh masalah perilaku petugas penagihan (debt collector) dan persoalan SLIK.
“Dengan sinergi bersama pemerintah dan perbankan, kami optimis industri keuangan Bali akan tetap stabil dan memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkas Parjiman.
Poin-Poin Utama untuk Infografis (Opsional):
Total Kredit Bank: Rp119,75 Triliun (Tumbuh 6,47% yoy).
Kredit UMKM: Porsi 51,32% dari total kredit.
Dana Pihak Ketiga (Tabungan/Deposito): Rp204,59 Triliun.
Investor Pasar Modal: 381.557 SID.
Kualitas Kredit (NPL Gross): 2,62% (Membaik dari tahun lalu). ***

