Merawat Tradisi Kebangsaan Lewat Gerak Jalan: Buleleng dan Refleksi Merayakan HUT ke-81 RI

Pemerhati pendidikan Lewa Karma menyatakan Buleleng memiliki karakter sosial dan budaya yang sangat khas, di mana nasionalisme Indonesia mampu tumbuh subur berdampingan dengan identitas lokal yang kuat.

3 Agustus 2026, 05:03 WIB

Buleleng-Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, semarak nasionalisme mulai terasa di berbagai penjuru tanah air, termasuk di Kabupaten Buleleng, Bali.

Tradisi perlombaan gerak jalan yang rutin digelar setiap Agustus tidak hanya dipandang sebagai agenda seremonial atau ajang kompetisi mencari juara.

Lebih dari itu, derap langkah para pelajar di jalanan menyimpan pesan mendalam mengenai penguatan karakter bangsa dan praktik nyata nilai-nilai Pancasila di tengah arus globalisasi.

Hal tersebut diungkapkan oleh pemerhati pendidikan, Lewa Karma, saat membedah makna kultural dan sosial dari tradisi gerak jalan yang melibatkan lintas elemen masyarakat di Bali.

Menurutnya, Buleleng memiliki karakter sosial dan budaya yang sangat khas, di mana nasionalisme Indonesia mampu tumbuh subur berdampingan dengan identitas lokal yang kuat.

Semangat menyama braya dalam budaya Bali, misalnya, memiliki titik temu dengan nilai gotong royong yang menjadi salah satu kekuatan sosial Indonesia.

“Masyarakat tidak hidup sendiri; mereka saling membantu, mendukung, dan menjaga harmoni sosial,” ujar Lewa Karma saat memberikan pandangannya, Senin (3/8/2026).

Ia mencontohkan, ekosistem sosial yang terbangun dalam tradisi gerak jalan melibatkan sinergi banyak pihak. Orang tua turun tangan menyiapkan perlengkapan anak-anak mereka, para guru dan pelatih dengan sabar melatih hingga sore hari demi menjaga kerapian barisan, masyarakat memberikan ruang dukungan di sepanjang rute, hingga pemerintah daerah menyiapkan berbagai agenda perayaan.

Oleh karena itu, kegiatan ini dinilai sarat akan nilai pendidikan karakter yang melampaui urusan menang atau kalah.

“Menang memang menyenangkan dan mendapat piala tentu membanggakan. Tetapi pengalaman berjalan bersama, berlatih bersama, berjuang bersama, dan menghargai kelompok lain jauh lebih penting bagi pembentukan karakter anak-anak bangsa,” tambahnya.

Lebih lanjut, Lewa Karma menyoroti bagaimana tradisi di ruang publik ini menjelma menjadi medium internalisasi ideologi negara secara praksis.

Pancasila, yang kerap kali dibatasi dalam ruang-ruang formal seperti buku pelajaran, upacara, atau seminar, menemukan wujud aslinya dalam perilaku sehari-hari di arena gerak jalan.

Nilai Ketuhanan tercermin dari kesadaran bahwa kemerdekaan adalah anugerah sekaligus amanah, sementara Kemanusiaan dan Persatuan terwujud nyata melalui sikap saling menghormati dan kebersamaan dalam satu barisan.

“Ketika anak-anak berjalan membawa Sang Merah Putih, sesungguhnya mereka sedang mempraktikkan Pancasila dalam bentuk yang sederhana. Di sinilah nasionalisme memperoleh energi baru,” jelas Lewa Karma, menyitir pula pandangan pemikir bangsa Yudi Latif bahwa Pancasila merupakan dasar etika dan orientasi kehidupan bersama yang harus terus dihidupkan dalam praktik sosial.

Di tengah tantangan zaman yang kian dinamis—di mana anak-anak tumbuh di era digital, kecerdasan buatan, dan paparan arus informasi global—bentuk nasionalisme memang mengalami pergeseran bentuk.

Namun, Lewa Karma menegaskan bahwa pengalaman konkret di ruang-ruang kebangsaan seperti gerak jalan tetap tidak tergantikan oleh layar gawai. Generasi muda tetap membutuhkan pengalaman nyata tentang disiplin, toleransi, kerja sama, dan pengorbanan.

Antusiasme tinggi masyarakat Buleleng dan Bali secara luas dalam menyambut HUT ke-81 RI dinilai sebagai refleksi optimisme rakyat yang harus ditangkap oleh pemerintah sebagai energi pembangunan.

Lewa Karma mengingatkan agar momentum kemerdekaan tidak berhenti pada kemeriahan bulan Agustus semata, melainkan dijawab melalui kerja nyata pemenuhan hak-hak dasar masyarakat.

Semangat anak-anak yang berlatih gerak jalan seharusnya menjadi pengingat bahwa negara memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan mereka.

“Mereka membutuhkan pendidikan berkualitas, lingkungan aman, akses kesehatan, serta ruang kreativitas tanpa diskriminasi,” tegasnya.

Menutup pandangannya, Lewa Karma mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai setiap derap langkah peserta gerak jalan sebagai simbol Indonesia terus bergerak maju.

Dengan Pancasila sebagai kompas dan gotong royong sebagai budaya, tradisi kebangsaan di tengah keberagaman ini diyakini mampu menjaga asa bangsa untuk terus menatap masa depan dengan penuh keyakinan. ***

Berita Lainnya

Terkini