Ini Penyebab Hotel di Bali Perang Tarif

25 September 2014, 08:09 WIB

KabarNusa.com – Perkembangan sarana akomodasi hotel dan vila dalam industri pariwisata menjadi pemicu terjadinya perang tarif antar hotel.

“Menjamurnya hotel-hotel, home stay dan vila di Bali menyebabkan over supply sehingga perang tarif tak terhindarkan,” jelas Presiden Junior Chamber International (JCI) Indonesia, Ida Bagus Agung Gunarthawa dihubungi Kamis (25/9/2014).

Kebijakan pemerintah dan kecenderungan pasar hotel yang terlalu mengejar jumlah wisatawan atau kuantitas juga tak dipungkiri kemudian menyebabkan tumbuhnya hotel yang tidak bisa dikendalikan.

Pemodal besar dengan mudah membangun hotel di semua lokasi yang sebenarnya sudah terjadi over load kamar. Semuanya mengejar tamu sebanyak-banyaknya untuk tinggal di hotel mereka.

Di sisi lain, dengan semakin terbukanya Bali maka kini wisatawan mulai bisa mengakses informasi kemana hotel-hotel yang bisa lebih terjangkau.

Bahkan, tamu domestik, lebih memahami ke mana mereka harus mencari tempat tinggal di Bali meskipun belum terdaftar.

Kata dia, penyebab lain terjadinya perang tarif, semakin kurangnya turis yang berlibur ke Bali.

Dengan Kapasitas daya tampung Bali cukup besar dibanding jumlah wisatawan asinhg yang datang seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan negara tetangga lainnya sehingga hotel berlomba memberikan diskon harga untuk menjaring tamu.

Pendek kata, dibanding jumlah kunjungan turis ke negara tetangga, di Bali kunjungan turis tak berbanding lurus dengan kapasitas daya tampung.

“Ya begitu, mau tidak mau ya banting harga, tidak ada pilihan lain untuk bisa menutupi biaya operasional,” sambung Koordinator Jenggala Bali NTB dan NTT itu.

Kendati begitu, tumbuhnya home stay, vila dan sejenisnya di desa-desa perlu diapresiasi pemerintah karena melahirkan enterprenuer baru.

Hanya saja, pemerintah mesti mengambil peran agar bisnis yang mereka kembangkan bisa tumbuh dan bertahan bukan sebaliknya hanya melindungi kepentingan investor besar.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah mengembangkan enterpreneurship warga yang membangun bisnis di bidang sarana akomodasi pariwisata.

Bagaimana, turis bisa lebih nyaman dan betah tinggal di hotel atau homestay mereka.

Dia mencotohkan di ubud saja, sebuah vila yang dengan kualitas yang berstandar internasional tamu tak segan membelanjakan untuk tinggal hingga Rp15 Juta dalam satu pekannya.

Tak kalah pentingnya, bagaimana promosi dan pengenalan produknya dikuatkan sehingga menarik minat wisatawan dan pada gilirannya bisa mencegah terjadinya perang tarif.

“Nilai jual kita ditonjolkan yang mengedapkan identitas budaya lokal, Bali ke depan jangan sampai hanya mengejar mass tourims melainkan pariwisata yang berkualitas dengan keunggulan culture dan spiritual tourism. Inilah quality tourims,” sambungnya. (kto)

Berita Lainnya

Terkini