KUR BRI Dorong Ekspansi Sektor Perikanan, Pembudidaya Lele di Badung Perkuat Kapasitas Produksi

Nyoman Miasa pelaku usaha pembibitan lele asal Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Kabupaten Badung, yang sukses mengembangkan skala usahanya berkat pemanfaatan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk

31 Juli 2026, 13:33 WIB

Badung — Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) produktif di Bali terus menunjukkan tren pertumbuhan positif melalui dukungan akses pembiayaan perbankan.

Salah satu kisah sukses datang dari I Nyoman Miasa (35), pelaku usaha pembibitan lele asal Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Kabupaten Badung, yang sukses mengembangkan skala usahanya berkat pemanfaatan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.

Dirintis sejak 2017 dengan modal mandiri sebesar Rp17 juta, Miasa awalnya membangun kolam terpal sederhana untuk fokus pada komoditas lele jenis Sangkuriang.

Keputusan untuk mengambil lini pembibitan didasarkan pada siklus produksi yang relatif lebih singkat serta tingginya stabilitas permintaan dari para pembudidaya lokal.

Seiring konsistensi kualitas benih berukuran 4 hingga 9 sentimeter yang dihasilkan, jangkauan pasar Miasa kini telah berekspansi ke berbagai kabupaten di Bali, meliputi Gianyar, Klungkung, Tabanan, hingga Singaraja, dengan kapasitas mencapai 360 ribu ekor per siklus produksi.

Kendati demikian, ekspansi kapasitas produksi ini diiringi dengan peningkatan struktur biaya operasional yang signifikan. Komponen biaya terbesar terkonsentrasi pada pengadaan pakan, di mana benih fase awal memerlukan pasokan cacing sutra senilai Rp88,7 juta serta kebutuhan pelet sekitar Rp15,3 juta per siklus.

Selain itu, manajemen kualitas air menggunakan sumur bor serta sirkulasi berkala menjadi variabel krusial untuk menekan risiko kematian benih akibat penyakit.

Guna menjaga likuiditas dan kelangsungan rantai pasok produksinya, Miasa mengandalkan fasilitas pembiayaan KUR BRI.

Plafon pembiayaan yang awalnya diakses pada level Rp25 juta secara bertahap ditingkatkan hingga mencapai Rp100 juta seiring dengan ekspansi aset dan volume usaha yang dicapainya.

Kebutuhan modal di usaha pembibitan memang cukup besar, terutama untuk pakan karena itu yang paling banyak menyerap biaya. Dengan adanya KUR BRI, lebih terbantu untuk menambah modal kerja sehingga produksi bisa terus berjalan dan permintaan pelanggan tetap bisa kami penuhi.

“Dari awal pinjam Rp25 juta sampai sekarang plafonnya meningkat menjadi Rp100 juta karena usaha juga terus berkembang,” ujar Miasa saat menjelaskan dampak pembiayaan terhadap kelangsungan usahanya.

Melalui tambahan modal kerja tersebut, efisiensi operasional dan ketersediaan pasokan pakan dapat terjaga secara optimal. Ke depan, Miasa menargetkan peningkatan volume produksi serta penetrasi pasar yang lebih luas ke seluruh wilayah Bali.

Dari perspektif makroekonomi dan perbankan, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan optimalisasi instrumen pembiayaan mikro merupakan katalis penting dalam mengakselerasi produktivitas sektor riil dan penguatan ketahanan pangan daerah.

KUR BRI hadir untuk memberikan akses pembiayaan kepada pelaku UMKM yang memiliki usaha produktif dan prospektif.

“Kami berharap pembiayaan ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat modal kerja, meningkatkan produktivitas, serta memperluas kesempatan usaha sehingga UMKM dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Hery.

Hery menambahkan, sektor perikanan budidaya memegang peran strategis dalam struktur ekonomi kerakyatan karena tidak hanya menggerakkan roda perekonomian lokal, tetapi juga menjadi bagian penting dari ekosistem rantai pasok pangan regional.

BRI akan terus mendorong penyaluran KUR kepada sektor-sektor produktif agar semakin banyak pelaku UMKM yang mampu meningkatkan skala usahanya, memperluas pasar, dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkas Hery.***

Berita Lainnya

Terkini