![]() |
| ilustrasi @2015 |
Kabarnusa.com – Penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto oleh Mabes Polri kian menunjukkan menajamnya konflik antar dua lembaga negara itu layaknya sebuah perang barbar. Hal itu disampaikan penasihat hukum dari Indonesia Police Watch (IPW) Jonson Pandjaitan menanggapi perseteruan dua institusi negara.
Jonson menjelaskan, kasus Polri dan KPK yang kerap disebut cicak Vs buaya itu, bisa dilihat dari tiga tingkatan dari kasus penangkapan BW. Pertama, ada 3 institusi yang saat ini sedang perang barbar. Mereka adalah Presiden, Polri dan KPK.
“Mereka mempertontonkan perang barbar ke publik. Ini sangat memalukan. Publik Indonesia sudah tahu semuanya,” ujarnya kepada wartawan di Denpasar, Sabtu (24/1/2015). Kedua, lanjutnya, ada upaya saling lobi antara dua lembaga itu dan presiden, lewat cara diplomasi.
“Polri, KPK, dan Presiden Jokowi bertemu di Istana Negara. Saling lobi terjadi namun tidak membawa hasil apa-apa,” terangnya. Yang ketiga sambungnya, masing-masing lembaga saling jaga image sehingga hal itu tak jauh beda dengan sikap kemunafikan.
Dalam mengatasi konflik itum, Jokowi harus turun tangan, bukan sekedar sekedar pidato di mimbar. Ketiga institusi tersebut punya independensi kehakiman masing-masing. “Ini adalah image yang dibangun dari ketiganya,” imbuhnya. (kto)

