Badung -– Berada di kawasan yang menjadi magnet pariwisata dunia, Masjid di Kabupaten Badung dituntut lebih berperan lebih bukan hanya sebagai tempat ibadah.
Dalam Musyawarah Daerah (Musda) II Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Badung, Minggu (28/6/2026), peran masjid sebagai ‘perekat’ kerukunan antarumat beragama menjadi perhatian utama.
Mengusung tema ‘Tawaduk Melayani Umat’, para pengurus DMI sepakat di daerah yang multikultural seperti Badung, sikap terbuka dan menjaga harmoni adalah kunci.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Badung, Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, menekankan, pariwisata sangat bergantung pada kenyamanan. Menurutnya, kenyamanan tersebut akan lahir jika suasana lingkungan senantiasa rukun dan damai.
“Badung adalah daerah pariwisata. Kunci utama pariwisata adalah kenyamanan, sedangkan kenyamanan lahir dari kerukunan. Karena itu, tugas organisasi keumatan adalah menjaga harmoni di tengah keberagaman,” jelas Ida Bagus Mas Arimbawa.
Ia pun berpesan agar DMI terus menjadi mitra pemerintah dalam merawat kerukunan, memastikan setiap aktivitas keagamaan di masjid tetap menjunjung tinggi rasa saling menghormati dan menghargai antarsesama warga.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum DMI Provinsi Bali, H. Bambang Santoso, mengingatkan tantangan di era digital saat ini menuntut pengurus masjid untuk lebih bijak.
Masjid tidak hanya perlu mengelola ibadah, tetapi juga menjadi pusat edukasi bagi masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar.
Pihaknya ingin masjid menjadi penyejuk. Lewat para mubalig dan pengurus, kami terus mengingatkan agar masyarakat bijak bermedia sosial.
“Jangan mudah menyebarkan informasi tanpa mempertimbangkan kemaslahatannya bagi orang lain,” tuturnya.
Ketua Panitia Musda II, Haji Suseno, mengatakan tema dipilih sebagai bentuk ikhtiar menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban dan pemberdayaan masyarakat.
Musda diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas pengurus DMI Kabupaten Badung periode 2021-2026, utusan takmir masjid besar dan musala yang menyelenggarakan Salat Jumat, serta unsur pengurus daerah lainnya.
Sementara, Ketua DMI Kabupaten Badung, Haji Agus Hendra Gunawan, mengungkapkan pengelolaan hampir 100 masjid dan musala di Badung menghadapi beragam tantangan karena setiap tempat ibadah memiliki persoalan yang berbeda.
“Karena itu kami berusaha memberikan pembinaan dan pendampingan agar setiap problematika yang dihadapi masjid setidaknya bisa menjadi lebih ringan,” ujarnya.
Kata Agus, selain persoalan pembinaan, organisasi juga menghadapi keterbatasan pendanaan karena DMI tidak memperoleh anggaran operasional dari pemerintah pusat.
Kondisi tersebut membuat pengurus harus berupaya mencari dukungan agar roda organisasi tetap berjalan.
Tantangan lain yang dihadapi adalah menyatukan visi seluruh pengurus.
“Kadang masih ada yang lebih mementingkan ego kelompok maupun golongan. Itu menjadi tantangan internal yang kami alami selama hampir lima tahun terakhir,” katanya menambahkan.
Meski demikian, Agus menilai kepengurusan periode 2021–2026 berhasil mencatat sejumlah capaian.
Salah satunya, DMI Badung telah memperoleh Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) serta Kementerian Agama.
DMI Badung juga berhasil membangun sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Badung yang diwujudkan melalui bantuan hewan kurban setiap Hari Raya Iduladha serta penyediaan bus bagi masjid dan musala untuk kegiatan ziarah wali.
Dia berharap Musda kali ini dapat melahirkan pemimpin yang amanah dan mampu membawa organisasi menjadi lebih maju, kompak, serta semakin bermanfaat bagi umat.
Melalui Musda II ini, DMI Badung berharap dapat melahirkan pemimpin baru yang siap merangkul semua pihak, proaktif dalam melayani, serta semakin memantapkan posisi masjid sebagai pusat peradaban yang teduh dan bersahabat bagi siapa saja, termasuk wisatawan yang berkunjung ke Bali. ***

