Yogyakarta — Pembangunan penggantian Jembatan Kewek di Kota Yogyakarta terus dipacu dan ditargetkan sudah dapat difungsikan secara operasional pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Jembatan yang menjadi akses vital penyangga kawasan wisata Malioboro ini dibangun dengan anggaran APBN senilai Rp19 miliar.
Kepastian tersebut disampaikan menyusul peninjauan langsung yang dilakukan oleh Komisi V DPR RI ke lokasi proyek pada Selasa, 11 Agustus 2026 sore. Rombongan dipimpin oleh Anggota Komisi V DPR RI Danang Wicaksana Sulistya, didampingi oleh Ketua Komisi C DPRD DIY Nur Subiyantoro, serta disambut oleh jajaran Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) DIY dan Plt Kepala BBWS Serayu Opak Parlinggoman Simanungkalit.
Anggota Komisi V DPR RI, Danang Wicaksana Sulistya, menegaskan bahwa peninjauan ini merupakan bentuk nyata fungsi pengawasan parlemen terhadap program kerja Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Ia juga meluruskan isu yang sempat beredar bahwa jembatan bersejarah tersebut akan dihilangkan total.
“Ini bagian dari tugas pengawasan kami di Komisi V DPR RI. Kami melihat apa yang dilaksanakan oleh mitra kami, dalam hal ini Kementerian PU,” ujar Danang kepada wartawan usai melakukan peninjauan.
Ia mengungkapkan, proyek senilai Rp19 miliar ini dirancang dengan tetap menjaga identitas kebudayaan setempat.
“Jembatan Kewek ini perlu diperbarui, bukan dihilangkan seperti yang sempat viral. Desainnya akan mengikuti desain lama dan sudah mendapat persetujuan dari Ngarso Dalem. Artinya, sisi tradisional dan historisnya tetap dipertahankan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Danang meminta pelaksana proyek agar tetap memegang teguh spesifikasi teknis demi menjaga nilai autentik kawasan tersebut. Ia juga menyoroti adanya kolaborasi lintas sektor dalam proyek ini, di mana Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak turut mengintervensi alur Sungai Code yang melintas di bawah jembatan, serta rencana penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) oleh Pemkot Yogyakarta.
Alur sungainya juga dibenahi dan disesuaikan dengan kebutuhannya. Kami juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta. Nantinya, penataan ruang terbuka hijau di sekitar kawasan juga akan dilanjutkan melalui program Pemerintah Kota
“Kami sungguh bahagia dan mengapresiasi kolaborasi ini sehingga kawasan semakin cantik, mendukung Yogyakarta berhati nyaman dan Jogja istimewa.” imbuhnya.
Dari sisi teknis, Kepala Satker PJN Wilayah DIY, Tisara Sita, menjelaskan bahwa pengerjaan struktur utama seperti fondasi saat ini telah rampung. Tim teknis kini tengah memfokuskan tahapan selanjutnya.
“Untuk pekerjaan pondasi sudah selesai. Kemudian sudah ada second pile dan saat ini kami mempersiapkan rencana erection girder yang ditargetkan pada akhir September,” jelas Tisara.
Ia mengakui sempat terjadi hambatan teknis di lapangan berupa struktur tanah yang mengalami penurunan atau ambles. Kendati demikian, ia memastikan persoalan tersebut telah ditangani sepenuhnya.
“Kemarin sempat ada yang ambles, tetapi sudah bisa ditangani secara teknis dan sekarang sudah aman. Harapan kami pada akhir tahun, saat Nataru, jembatan ini sudah bisa fungsional,” ungkapnya optimistis.
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro, memberikan apresiasi atas pengawalan ketat yang dilakukan oleh DPR RI terhadap proyek infrastruktur strategis di daerahnya. Ia menilai Jembatan Kewek memiliki peran yang jauh lebih luas dari sekadar perlintasan kendaraan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Danang Wicaksana Sulistya, anggota DPR RI Komisi V. Peran beliau sangat besar terhadap pelaksanaan pembangunan Jembatan Kewek ini,” ucap Nur Subiyantoro.
“Kita tahu Jembatan Kewek ini adalah jalur penyangga kawasan filosofis Malioboro. Oleh karena itu, kami berharap pembangunan ini segera selesai pada Nataru sehingga aktivitas masyarakat bisa berjalan dengan baik dan menopang perekonomian di kawasan Malioboro,” tambahnya.
Sebagai informasi, proyek yang dikerjakan oleh Satker PJN DIY bersama PT Wasis Karya Nugraha ini memiliki masa kerja selama 240 hari kalender. Target serah terima pertama atau Provisional Hand Over (PHO) dijadwalkan pada 25 Desember 2026.
Secara struktural, jembatan baru ini dirancang sepanjang 30 meter dengan lebar total 16 meter, yang mencakup jalan beraspal selebar 11 meter serta trotoar pejalan kaki seluas 2,5 meter di kedua sisinya. Proyek ini juga dilengkapi dengan penataan akses jalan (oprit) agar lebih landai serta pembangunan Dinding Penahan Tanah (DPT) guna mengantisipasi erosi tebing sungai.***

