Kisah Pisang Unik dari Gunungkidul: Satu Pohon Empat Tandan, Kebal Virus, hingga Dilirik Bupati

Pohon pisang milik Pringadi, warga Gunungkidul punya keanehan dengan menumbuhkan anakan yang kembar begitu beranjak dewasa, pohon-pohonan ini memproduksi dua hingga empat tandan buah sekaligus dari satu batang yang sama.

19 Mei 2026, 06:42 WIB

Gunungkidul – Kisah Pisang Unik dari Gunungkidul: Satu Pohon Empat Tandan, Kebal Virus, hingga Dilirik Bupati

Warga Dusun Wonongso di Kelurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, Gunungkidul, belakangan ini punya tontonan menarik.

Sebuah pohon pisang di pekarangan milik Pringadi, seorang petani setempat, mendadak jadi bintang panggung. Bagaimana tidak? Alih-alih berbuah normal, satu batang pohon pisang ini mampu menghasilkan hingga empat tandan sekaligus.

Fenomena unik ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak 1,5 tahun lalu, tepatnya di sekitar momen riuh Pemilihan Presiden.

Saat itu, pohon pisang milik Pringadi mulai memamerkan keanehannya dengan menumbuhkan anakan yang kembar. Begitu beranjak dewasa, pohon-pohonan ini langsung ngegas memproduksi dua hingga empat tandan buah sekaligus dari satu batang yang sama.

Secara ilmiah, fenomena “ajaib” ini dikategorikan sebagai mutasi genetik alami. Hebatnya, ini bukan sekadar keberuntungan sekali lewat.

Saat ini, budidaya pisang unik tersebut sudah memasuki masa panen ketujuh, dan karakteristik buahnya tetap konsisten melimpah

Usut punya usut, pisang ini punya sejarah yang cukup mentereng. Pringadi menceritakan bahwa bibit awal pisang tersebut berasal dari wilayah Sambirejo, yang merupakan buah hasil dari program KKN mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kala itu, Dusun Wonongso didapuk sebagai daerah penyangga untuk program budidaya tersebut.

Menariknya lagi, keunggulan pisang ini bukan cuma menang di jumlah tandan. Di saat kebun-kebun tetangga meranggas akibat serangan virus—yang oleh warga lokal akrab disebut penyakit bombrong—pisang di pekarangan Pringadi justru tetap berdiri tegak, sehat, dan tampak kebal.

“Secara fisik, pisang ini termasuk dalam jenis Ambon. Tapi rasanya ada perbedaan kalau dibandingkan dengan Ambon Jawa pada umumnya,” tutur Pringadi.

Ia menambahkan, buah pisang ini punya ciri khas kulit yang cenderung tetap kehijauan dengan ukuran buah yang bongsor dan rasa yang manis. Jika dijual, satu pohonnya pernah laku hingga Rp130.000.

Meski bernilai ekonomi tinggi, Pringadi mengaku lebih sering memanennya untuk dikonsumsi sendiri bersama keluarga atau dibagi-bagikan ke tetangga sekitar.

Potensi luar biasa ini rupanya langsung tercium oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Pemerintah daerah kini tengah menyusun rencana serius untuk membudidayakan dan menangkarkan varietas ini secara lebih luas.

Bahkan, dinas terkait berencana memberikan nama khusus agar si pisang unik bisa menjadi ikon baru daerah.

Keseriusan ini terlihat saat Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul turun langsung meninjau lokasi kebun di Wonongso.

Tak main-main, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, juga ikut menyambangi kebun tersebut pada Senin (18/5/2026).

“Mungkin ke depan kita bisa memberikan nama khusus untuk varietas ini agar dapat menjadi ikon baru bagi Kapanewon Ngawen, khususnya Kelurahan Tancep,” ujar Endah optimistis di sela-sela kunjungannya.

Lewat pengembangan varietas unggul ini, Endah berharap posisi Kabupaten Gunungkidul sebagai salah satu pemasok utama pisang di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan semakin kuat.

Ia pun menyelipkan pesan hangat agar warga setempat terus merawat semangat bertani demi menjaga ketahanan pangan mandiri.

“Makan apa yang kita tanam, dan tanam apa yang kita makan,” pungkasnya.***

Berita Lainnya

Terkini