Aksi Damai Peternak di DPRD DIY: Protes Harga Pakan Melambung dan Bagikan Ribuan Ayam Afkir

Koordinator Peternak DIY, Andry Patra, mengungkapkan para peternak telah menderita kerugian selama tiga hingga empat bulan terakhir akibat ketimpangan harga telur di pasaran.

11 Agustus 2026, 05:53 WIB

Yogyakarta— Ratusan peternak yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Petelur Yogyakarta (P3Y) menggelar aksi unjuk rasa damai di halaman Gedung DPRD DIY pada Senin, 10 Agustus 2026.

Aksi yang diikuti oleh sekitar 500 peternak dari empat kabupaten di DIY ini merupakan bentuk protes atas tingginya harga pakan ternak yang dinilai tidak sebanding dengan rendahnya harga jual telur di pasaran.

Koordinator Peternak DIY, Andry Patra, mengungkapkan  para peternak telah menderita kerugian selama tiga hingga empat bulan terakhir akibat ketimpangan harga tersebut.

Paguyuban Peternak Petelur Yogyakarta berkumpul di sini dari empat kabupaten untuk menyampaikan aspirasi dalam rangka kita wadul ke pemerintah ya lewat dewan untuk menurunkan harga pakan.

“Artinya kerugian ini setiap hari kami alami sudah 3-4 bulan ini ya, harga pakan setiap minggu mengalami kenaikan,” ujar Andry saat ditemui di lokasi aksi.

Dalam audiensi bersama pihak legislatif, perwakilan peternak memaparkan rincian biaya pokok produksi (HPP) yang dikeluhkan sangat memberatkan.

Dengan harga pakan jadi yang menyentuh angka Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram, sementara untuk menghasilkan satu kilogram telur dibutuhkan sekitar 3,5 kilogram pakan, maka HPP telur saat ini berada di kisaran Rp26.250 per kilogram.

Ironisnya, harga jual telur di tingkat peternak saat ini justru merosot tajam di bawah Rp20.000 per kilogram. Kondisi ini memicu kerugian bersih sekitar Rp6.550 untuk setiap kilogram telur yang diproduksi.

“Jadi per kilo, kita itu menderita kerugian Rp6.550 per kilo. Nah, tinggal dikalikan berapa? Dikalikan 1 kuintal, dikalikan 1 ton per hari, ketemunya berapa, Bapak/Ibu? Kuncinya adalah di harga pakan, karena bagi kami peternak, 80 persen modal itu larinya ke pakan,” jelas salah satu perwakilan peternak saat audiensi.

Sebagai solusi jangka pendek, peternak berharap pemerintah dapat mengintervensi pasar agar harga pakan dapat ditekan hingga Rp6.000 per kilogram, sehingga HPP telur dapat turun ke angka ideal sekitar Rp21.000 per kilogram.

Aksi Simbolik Pembagian Ribuan Ayam Afkir

Sebagai bentuk protes simpatik sekaligus upaya mandiri untuk mengurangi populasi ayam di tingkat peternak, massa P3Y membagikan kurang lebih 2.000 ekor ayam petelur afkir secara gratis kepada masyarakat yang melintas.

Andry Patra menjelaskan bahwa pihaknya sengaja memilih membagikan ayam afkir alih-alih telur guna menghindari disrupsi pasar dan menunjukkan kondisi nyata yang sedang dihadapi sektor peternakan rakyat.

“Kalau dibagi telur nanti harga telurnya terserap tapi orang nggak beli telur. Kenapa dibagikan ayam ya? Karena populasi ayam hari ini cukup tinggi dan harga afkir anjlok hanya Rp13.000 sampai Rp14.000 per ekor, padahal normalnya bisa mencapai Rp25.000,” kata Andry.

Aksi pembagian ayam ini pun menarik perhatian warga sekitar. Rosdiana (66), seorang warga asal Belitung yang tengah berada di lokasi, mengaku terbantu dan berencana memanfaatkan ayam tersebut untuk konsumsi mahasiswa asal daerahnya yang sedang menempuh studi di Yogyakarta.

“Kita pas lihat orang kerumun-kerumun dikasih ayam, ya ikut ambil. Ayam ini nanti mau kita kasihkan ke anak-anak asrama mahasiswa Belitung yang lagi kuliah di sini buat mereka masak sendiri,” ungkap Rosdiana.

Enam Tuntutan Utama P3Y

Dalam audiensi tersebut, P3Y secara resmi menyampaikan enam tuntutan kepada pemerintah melalui DPRD DIY, antara lain:

1. Menurunkan harga pakan agar kembali terjangkau oleh peternak rakyat.

2. Mewujudkan harga telur yang adil bagi seluruh rantai pasok (peternak, pedagang, dan konsumen).

3. Menciptakan tata niaga bahan baku yang sehat dan transparan, mengingat harga jagung, katul, dan konsentrat terus merangkak naik setiap pekannya.

4. Menjamin ketersediaan pasokan jagung secara konsisten sebagai komponen utama (50 persen) pakan ternak.

5. Menguatkan kelembagaan sektoral dan perhatian khusus dari pemerintah terhadap sektor peternakan.

6. Membantu penyerapan ayam afkir melalui jejaring industri pemotongan swasta maupun intervensi pemerintah guna mendongkrak harga jual di tingkat peternak.

Pengamanan Ketat Kepolisian

Sementara itu, jajaran Polresta Yogyakarta menurunkan sebanyak 167 personel untuk mengawal jalannya aksi unjuk rasa agar tetap tertib serta mengamankan arus lalu lintas di sejumlah titik strategis seperti kawasan perbatasan Bantul-Sleman dan kawasan Gumaton.

Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Ari Setyawan Wibowo, memastikan bahwa rangkaian kegiatan penyampaian aspirasi dan pembagian ribuan ekor ayam gratis tersebut berlangsung secara aman dan kondusif.

“Alhamdulillah kita mendampingi kegiatan ini sampai dengan selesai. Personel kita tempatkan di sejumlah titik akses masuk dari wilayah Bantul dan Sleman serta kawasan Gumaton untuk mengatur kelancaran lalu lintas agar aktivitas masyarakat umum lainnya tidak terganggu,” pungkas Kombes Pol Ari.***

 

Berita Lainnya

Terkini