Tabanan – Berwisata ke Bali sering kali identik dengan kunjungan ke pura-pura ikonik. Namun, bagi wisatawan yang ingin menyelami sisi lebih dalam dan autentik dari Pulau Dewata, kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan di Baturiti, Tabanan, menawarkan pengalaman berbeda.
Melalui agenda rutin Parade Gebogan dan Baleganjur, kawasan ini menyuguhkan kekayaan tradisi yang kental dengan ciri khas desa adat setempat.
Agus Teja Saputra, Humas DTW Ulun Danu Beratan, menjelaskan parade menjadi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan identitas budayanya.
Dijelaskan, setiap desa adat yang berpartisipasi diwajibkan menampilkan tarian atau tabuh yang merepresentasikan sejarah dan kearifan lokal wilayahnya masing-masing.
Tujuannya, menjaga kearifan lokal yang ada di masyarakat sekitar sini. Setiap banjar wajib menciptakan tarian atau mengangkat nilai-nilai yang menjadi ciri khas desanya.
“Contohnya, ada yang menceritakan tentang pertanian, ada pula yang mengisahkan sejarah pura di desa mereka,” ujar Agus Teja ditemui di sela Parade Festival Gebogan dan Baleganjur di DTW Ulun Danu Beratan, Baturiti Tabanan Kamis 2 Juli 2026.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah penampilan Tari Kecak.
Jika biasanya wisatawan hanya disuguhkan kisah Ramayana, di Ulun Danu Beratan, para penari justru membawakan cerita tentang terbentuknya pura dan danau yang ada di kawasan tersebut.
Ini adalah narasi spesifik yang hanya bisa disaksikan di sana, memberikan nilai edukasi sekaligus hiburan yang eksklusif bagi para pengunjung.
Agus Teja menambahkan, pihaknya sengaja mengemas acara ini dalam format parade agar wisatawan dapat menikmati pertunjukan dengan lebih nyaman.
Dengan konsep ini, interaksi antara seniman lokal dan pengunjung menjadi lebih intim, tanpa terhalang kerumunan yang terlalu padat, sehingga wisatawan bisa lebih leluasa mengabadikan momen budaya tersebut.
Keberhasilan parade ini tak lepas dari keterlibatan aktif generasi muda.
Meskipun sempat terkendala kesibukan sekolah dan pekerjaan, para pemuda di 20 desa adat sekitar kawasan tetap menunjukkan antusiasme yang tinggi.
Dukungan dana pembinaan dari pihak pengelola dan apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Tabanan menjadi penyemangat tersendiri bagi mereka.
Pihaknya sangat terbantu dengan dukungan masyarakat, bahkan dari banjar yang jumlah warganya sedikit pun tetap semangat ikut serta.
“Semoga ke depannya dukungan ini terus mengalir, karena bagi kami, ini adalah cara menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah arus modernisasi,” tutup Agus. ***

