Menelusuri Jejak Cinta dan Perjuangan Bung Karno di Bengkulu: Dari Sumur Ajaib hingga Panggung Sandiwara

Komisi A DPRD DIY melakukan napak tilas ke sejumlah lokasi bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan Proklamator RI, Ir. Soekarno, atau Bung Karno, saat menjalani masa pengasingan di Bumi Rafflesia.

12 Juni 2026, 15:58 WIB

Bengkulu –  Suasana khidmat dan penuh nilai sejarah menyelimuti kunjungan kerja Komisi A DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ke Provinsi Bengkulu, Kamis (11/6/2026).

Dalam rangka menyemarakkan bulan Juni sebagai Bulan Pancasila, rombongan legislator dari ‘Kota Pelajar’ ini melakukan napak tilas ke sejumlah lokasi bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan Proklamator RI, Ir. Soekarno, atau Bung Karno, saat menjalani masa pengasingan di Bumi Rafflesia.

Dipimpin Sekretaris Komisi A DPRD DIY, Syarif Guska Laksana, kunjungan ini tidak sekadar menjadi agenda formalitas.

Bagi Syarif dan rekan-rekan anggota DPRD lainnya, Bengkulu menyimpan rekam jejak perjuangan yang esensial untuk dipelajari, terutama dalam meneladani kegigihan Bung Karno di tengah keterbatasan ruang gerak.

Pihaknya menggali kembali nilai-nilai semangat perjuangan beliau. Meskipun saat itu diasingkan dan dibatasi ruang geraknya oleh kolonial, beliau tetap teguh dalam pendirian, konsisten menyebarkan ide, dan gagasannya.

“Ini adalah teladan penting bagi tata pemerintahan saat ini,” ujar Syarif saat berada di lokasi.

Salah satu destinasi utama rombongan adalah Rumah Pengasingan Bung Karno yang terletak di pusat Kota Bengkulu.

Bangunan yang awalnya merupakan milik warga Tionghoa dan dibangun pada tahun 1918 ini, menjadi tempat tinggal Bung Karno bersama Ibu Inggit Garnasih dan anak angkat mereka selama empat tahun (1938–1942).

Di balik kesederhanaan rumah berukuran 9 x 18 meter ini, terdapat sebuah mitos yang menarik perhatian wisatawan: sumur tua yang airnya selalu tawar.

Meski letak rumah ini berdekatan dengan pantai yang membuat air di sumur-sumur sekitar terasa payau, sumur di rumah pengasingan ini tetap tawar.

Konon, bagi siapa saja yang membasuh muka dengan air sumur tersebut, ia akan kembali mengunjungi tempat ini di kemudian hari.

Pengelola operasional rumah pengasingan, Safrida Hanum, menjelaskan bahwa rumah ini menyimpan banyak memori, termasuk perkenalan awal Bung Karno dengan Ibu Fatmawati.

Di rumah inilah Bung Karno juga mendirikan grup seni teater bernama ‘Monte Carlo’untuk mengusir rasa jenuh sekaligus membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat lokal.

Sejarawan sekaligus penulis, Agus Setianto, menambahkan dimensi lain mengenai kehidupan Bung Karno di Bengkulu.

Menurut Agus, selama empat tahun pengasingan, Bung Karno sangat aktif dalam kegiatan seni. Setidaknya, 12 karya sandiwara lahir dari tangan dinginnya melalui kelompok teater ‘Monte Carlo’.

Menariknya, pada masa itu, seluruh pemeran teater adalah laki-laki, karena peran perempuan di panggung pementasan masih dianggap tabu oleh masyarakat setempat.

Naskah-naskah populer seperti ‘Rainbow (Poetri Kentjana Boelan)’, ‘Hantu Gunung Bungkuk’, hingga ‘Dokter Setan’ menjadi bukti produktivitas Bung Karno.

Proses kesenian di zaman itu sungguh luar biasa. Hal itu lahir dari semangat Bung Karno untuk membunuh rasa bosannya sekaligus menghibur diri.

“Melalui kesenian itu pula, jiwa-jiwa nasionalisme ditumbuhkan,” ungkap Agus.

Perjalanan napak tilas berlanjut ke Rumah Masa Kecil Ibu Fatmawati. Rumah panggung kayu ini kini telah disulap menjadi museum yang dirawat oleh keluarga.

Marwan Amanadin, adik sepupu kandung Ibu Fatmawati, menyambut rombongan dengan berbagi cerita tentang masa muda sang tokoh yang kelak menjahit Bendera Pusaka Merah Putih tersebut.

Marwan menuturkan, Fatmawati adalah sosok gadis yang berjiwa aktivis meski belum terorganisir, serta dikenal sangat bersahaja dan dekat dengan rakyat.

Di museum ini pula, pengunjung dapat melihat langsung mesin jahit asli yang digunakan Fatmawati untuk menjahit bendera kemerdekaan—sebuah artefak sejarah yang sangat berharga bagi bangsa.

Melalui kunjungan ini, DPRD DIY berharap nilai-nilai nasionalisme yang ditemukan di Bengkulu dapat terus dirawat, terutama oleh DIY sebagai Kota Pendidikan. Syarif Guska Laksana menegaskan bahwa pengalaman ini diharapkan mampu memberi dampak positif bagi pengembangan pariwisata berbasis sejarah dan nasionalisme di kedua daerah.

“Semoga nilai-nilai nasionalisme ini dapat terus dirawat dan diperjuangkan,” tutup Syarif.

Bagi masyarakat yang ingin menelusuri jejak sejarah ini, Rumah Pengasingan Bung Karno terbuka untuk umum setiap hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Setiap akhir pekan, tempat ini kerap diserbu ratusan pengunjung yang ingin merasakan langsung atmosfer perjuangan sang Proklamator di tanah pengasingan. ***

Berita Lainnya

Terkini