Denpasar– Suasana jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 mulai terasa lebih dinamis. Kali ini, perhatian publik tertuju pada munculnya gelombang dukungan dari Indonesia Timur yang menginginkan penyegaran kepemimpinan di tubuh PBNU.
Dukungan bagi sosok Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 kini kian menguat, terutama dari arus akar rumput di Indonesia Timur.
Banyak kader Nahdliyin yang menilai momentum Muktamar 2026 adalah waktu yang tepat untuk melakukan penyegaran organisasi.
Sosok Nasaruddin Umar dianggap sebagai figur yang mampu membawa energi baru dan visi yang lebih inklusif ke depan.
Bagi para pendukungnya, Imam Besar Masjid Istiqlal ini dinilai memiliki kombinasi kepemimpinan yang lengkap. Ia lahir dari rahim organisasi melalui proses panjang—mulai dari aktif di PMII, mengabdi di PWNU Sulawesi Selatan, hingga jajaran elit PBNU.
Kapasitasnya pun tak diragukan karena memiliki tiga keunggulan utama:
Akar Tradisi:Pengasuh pesantren yang sangat memahami dinamika kehidupan santri.
Intelektual Teknis: Akademisi yang pernah menjabat sebagai Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Diplomasi Global: Memiliki jaringan internasional yang kuat, yang dinilai mampu membawa NU semakin berperan dalam dialog perdamaian dunia.
Kepercayaan publik terhadapnya kini kian bertambah seiring perannya sebagai Menteri Agama di bawah pemerintahan Presiden Prabowo–Gibran.
Kombinasi ini diyakini mampu membawa NU melangkah lebih jauh di kancah internasional tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Sentimen positif terhadap Nasaruddin Umar juga datang dari Bali.
Wakil Ketua PWNU Bali, Syamsul Hadi, menilai sudah saatnya organisasi sebesar NU dipimpin oleh sosok yang memiliki perpaduan keulamaan dan manajerial yang matang.
“Kapasitas keulamaan dan kapabilitas mengelola organisasi serta pola komunikasinya, saya rasa tidak diragukan. Beliau figur yang sangat layak memimpin PBNU ke depan,” ujar Syamsul Hadi saat dihubungi, Rabu (1/7/2026).
Syamsul menambahkan, sudah saatnya warga Nahdliyin melepaskan sekat-sekat kewilayahan dalam memandang figur pemimpin. Ia optimis, dengan rekam jejaknya, Nasaruddin Umar adalah sosok yang pantas untuk “menakhodai” perjalanan PBNU lima tahun ke depan.
Meski dukungan terus mengalir, proses pemilihan tetap akan berjalan sesuai mekanisme AD/ART organisasi di Muktamar nanti.
Namun, satu hal yang pasti, Muktamar 2026 diprediksi akan menjadi babak penting bagi NU untuk bertransformasi menjadi organisasi yang lebih merata secara geografis dan berdampak luas bagi perdamaian dunia. ***

