![]() |
| “Deflasi tertinggi terjadi di Padang sebesar 1,98 persen dan terendah di Bandung serta Madiun sebesar 0,05 persen,” jelas Kepala BPS Bali Panisunan Siregar. |
Kabarnusa.com – Setelah dua kali harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami penurunan hal itu menjadi pemicu terjadinya deflasi di Kota Denpasar, Bali mencapai 0,08 persen.
Data dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menujukkan, deflasi terjadi akibat adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok berbagai komoditas seperti transportasi, komunikasi dan jasa keuangan yang besarannya 4,15 persen.
Dari 82 kota tercatat 51 Kota mengalami deflasi dan 31 kota lainnya mengalami inflasi.
“Deflasi tertinggi terjadi di Padang sebesar 1,98 persen dan terendah di Bandung serta Madiun sebesar 0,05 persen,” jelas Kepala BPS Bali Panisunan Siregar dalam pertemuan bulanan di kantornya, Senin (2/2/2015).
Jika diurutkan, Denpasar menempati peringkat ke-48 dari 51 Kota di Tanah Air yang mengalami deflasi. Menurut Panusunan, deflasi yang terjadi di Bali itu menarik dicermati mengingat sejak tahun 2000 deflasi terakhir terjadi pada tahun 2009.
Barulah enam tahun kemudian Bali kembali mengalami deflasi. Yang menjadi penyebab diantaranya, kebijakan pemerintah yang menurunkan harga BBM selama dua kali dalam satu tahun terakhir.
Adapun komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain bensin, minyak goreng, cabai merah, cabai rawit dan tarif angkutan udara.
Sedangkan komoditas yang mengalami peningkatan harga seperti bahan bakar rumah tangga, kayo balokan, tarif listrik, tarif sewa rumah, ayam ras, telur ayam dan lainnya.
Di pihak lain, laju inflasi tahun 2015 tercatat -0,08 persen sedangkan laju inflasi ‘Yearon Year’ atau Januari 2015 terhadap Januari 2014, tercatat 6,61 persen. “Untuk inflasi periode sama tahun 2013 dan 2014 masing-masing 1,42 persen dan 1,26 persen,” imbuhnya. (rhm)

