Akhir dari Misteri Api Seyegan: Peneliti Pastikan Tidak Ada Gas Alam, Investigasi Berlanjut ke Jalur Hukum

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui BPBD resmi menghentikan penelitian api misterius di Seyegan setelah tim ahli menyimpulkan bahwa fenomena tersebut bukan disebabkan oleh gas alam maupun aktivitas geologi.

16 Juni 2026, 20:27 WIB

Yogyakarta – Teka-teki di balik munculnya api misterius di sebuah rumah warga di Padukuhan Kramat, Seyegan, akhirnya menemui titik terang.

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui BPBD resmi menghentikan penelitian setelah tim ahli menyimpulkan fenomena tersebut bukan disebabkan oleh gas alam maupun aktivitas geologi.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menjelaskan, keputusan ini diambil setelah tim gabungan dari UGM, UPN Veteran Yogyakarta, BRIN, BPTKG, hingga tim kepolisian melakukan investigasi mendalam sejak 23 Mei 2026.

“Hasil penelitian semua pihak menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara fenomena api yang muncul dengan gas alam di lokasi tersebut,” ujar Bambang di Kantor Pemkab Sleman, Senin (15/6/2026).

Berbagai metode canggih telah dikerahkan, mulai dari survei geomagnetik, geolistrik, hingga pemantauan menggunakan drone.

Hasilnya, kandungan gas seperti metana, hidrogen, hingga gas rawa di lokasi ditemukan masih di bawah ambang batas yang mampu memicu kebakaran.

Bahkan, gelembung gas yang sempat ditemukan di Sungai Nepen (sekitar 250 meter dari rumah) setelah diuji coba ternyata tidak mudah terbakar.

Meski faktor alam sudah disingkirkan, tim peneliti dari UGM justru menemukan hal lain.

Berdasarkan uji laboratorium dengan metode FTIR, ditemukan adanya residu material berbasis resin yang mengandung polyvinyl chloride (PVC) di lokasi kejadian.

“Kami menemukan material yang mudah terbakar, yakni resin yang mengandung unsur PVC. Namun, bagaimana mekanisme material ini bisa terbakar, kami tidak memiliki data tersebut,” jelas dosen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi.

Dengan berakhirnya masa penelitian, fokus kini beralih ke pihak kepolisian.

BPBD mencatat selama 22 hari terakhir, setidaknya terjadi 126 kali kemunculan api di rumah tersebut. Namun, dalam dua hari terakhir, api sudah tidak terlihat lagi.

Terkait adanya kemungkinan unsur kesengajaan di balik rentetan kejadian ini, pihak BPBD Sleman memilih untuk tidak berspekulasi dan menyerahkan sepenuhnya penyelidikan kepada aparat penegak hukum.

“Nanti pihak kepolisian yang akan membuktikan. Kami tidak bisa menyampaikan hal itu,” pungkas Bambang. ***

Berita Lainnya

Terkini