San Diego– Dunia startup Indonesia kembali menorehkan pencapaian membanggakan. TERANGIN, startup asal Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang lahir dari program Pertamuda Seed & Scale 2025, berhasil menembus Top 4 Fowler Global Social Innovation Challenge (FGSIC) 2026 di University of San Diego.
Mereka menyisihkan 43 semifinalis dari 34 universitas di 10 negara.
TERANGIN hadir dengan inovasi perangkap hama tanaman berbasis kincir angin dan panel surya.
Energi terbarukan ini dimanfaatkan untuk menyalakan lampu perangkap hama, menawarkan solusi ramah lingkungan bagi sektor pertanian.
Founder Muhammad Hanif menuturkan, kompetisi ini bukan hanya ajang adu ide, tetapi juga kesempatan bertemu calon mitra internasional dan belajar dari ekosistem global.
Dukungan penuh datang dari Pertamina melalui program Pertamuda.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan pencapaian ini membuktikan daya saing inovasi anak bangsa di panggung internasional.
“Kami bangga bisa mendukung generasi muda Indonesia melangkah ke level global,” ujarnya.
Selain TERANGIN, Indonesia juga diwakili oleh Pe-NOVTRA dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) dengan inovasi alat panen kelapa sawit berbasis self-charging piezoelektrik.
Meski belum masuk Top 6, partisipasi mereka tetap memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem social entrepreneurship dunia.
Sebagai penghargaan, TERANGIN menerima pendanaan sebesar USD 3.000 untuk pengembangan solusi.
Adapun juara pertama memperoleh USD 25.000, juara kedua USD 15.000, dan juara ketiga USD 10.000. Kompetisi ini turut diikuti kampus ternama seperti Georgetown University, Michigan State University, hingga University of London.
Pencapaian TERANGIN menjadi tonggak penting perjalanan startup sosial Indonesia, sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional di masa depan.
FGSIC sendiri dikenal sebagai ajang global yang mempertemukan startup mahasiswa untuk menghadirkan solusi inovatif atas tantangan sosial dunia.

