Okupansi Hotel Melesat dan PHR Tembus Rp4,1 Triliun, ITDC-BRI Hadirkan Solusi Konkret untuk UMKM

Gubernur Bali, Wayan Koster, mengungkapkan sekitar 66 persen struktur ekonomi Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata sehingga ekosistem pariwisata harus dikawal secara ketat agar tetap kondusif, aman, dan berkelanjutan.

10 Agustus 2026, 06:14 WIB

Nusa Dua -Dinamika perekonomian Bali pada paruh kedua tahun 2026 menunjukkan tren kualitas yang semakin menguat. Di tengah tantangan fluktuasi kunjungan wisatawan domestik akibat kenaikan harga avtur, sektor perhotelan dan penerimaan pajak daerah justru mencatatkan rekor gemilang.

Penguatan fundamental ekonomi ini diselaraskan melalui penyelenggaraan BRIMo Nusa Dua Eco Market 2026—sebuah wadah kolaborasi strategis antara ITDC dan BRI untuk memastikan pertumbuhan pariwisata berbanding lurus dengan kesejahteraan pelaku UMKM lokal.

Gubernur Bali, Wayan Koster, mengungkapkan sekitar 66 persen struktur ekonomi Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata. Oleh karena itu, ekosistem pariwisata harus dikawal secara ketat agar tetap kondusif, aman, dan berkelanjutan.

Berdasarkan data hingga 31 Juli 2026, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sekitar 0,4 persen secara year on year, mencatatkan rata-rata kunjungan harian sebanyak 22.000 hingga 24.000 orang.

Kendati demikian, tantangan hadir dari sektor domestik di mana kunjungan mengalami koreksi sekitar 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Faktor utama pemicunya adalah kenaikan harga avtur yang berdampak langsung pada lonjakan harga tiket pesawat menuju Bali.

“Jumlah wisatawannya turun, tapi tingkat hunian hotelnya naik,” ujar Gubernur Wayan Koster saat meresmikan acara tersebut.

Paradoks positif ini terlihat jelas pada tingkat hunian hotel berizin, khususnya kelas bintang lima dan bintang lima plus, yang rata-rata kini mencapai 90 persen, bahkan melampaui 95 persen di kawasan ITDC Nusa Dua.

Dampak ikutan (multiplier effect) dari tingginya okupansi ini tercermin secara langsung pada penerimaan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) kabupaten/kota se-Bali yang sukses menembus angka Rp4,1 triliun per 31 Juli 2026, meningkat dari Rp3,8 triliun pada tahun sebelumnya.

Kabupaten Badung keluar sebagai kontributor terbesar dengan menyumbang Rp2,9 triliun atau sekitar 71 persen.

Komitmen Nyata: UMKM Jangan Pulang Bawa Dagangan

Menyoroti pentingnya pemerataan kesejahteraan, Gubernur Koster memberikan atensi khusus kepada 50 tenant UMKM yang berpartisipasi dalam BRIMo Nusa Dua Eco Market 2026 (8–9 Agustus 2026). Ia menekankan agar acara ini tidak sekadar menjadi etalase keramaian, melainkan memberikan kepastian ekonomi bagi pelaku usaha kecil yang hadir dari berbagai daerah, seperti Jembrana.

Koster secara tegas meminta pihak penyelenggara, yakni ITDC dan BRI, untuk bertanggung jawab penuh terhadap sisa produk dagangan UMKM agar tidak ada yang merugi karena barang harus dibawa pulang.

“Kalau tutup, ada barang sisa jangan sampai dibawa pulang. Bapak tanggung jawab beli semua. Nggak boleh ada yang dibawa pulang,” tegas Wayan Koster di hadapan Direktur Operasi ITDC dan pimpinan BRI.

Sebagai solusi, ia mengusulkan gerakan “berbelanja dan berbagi”, di mana sisa produk UMKM dibeli oleh korporasi atau penyelenggara untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Skema ini dinilai mampu menciptakan keharmonisan ekonomi: UMKM mengantongi kepastian omzet, masyarakat menerima manfaat sosial, dan wisatawan mendapatkan suvenir kultural.

Direktur Operasi ITDC, Troy Reza Waroka, menjelaskan bahwa acara ini merupakan implementasi dari program destination activation guna memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus menghidupkan kawasan pariwisata (living destination).

“BRIMo Nusa Dua Eco Market merupakan salah satu program aktivasi kawasan yang diselenggarakan melalui kolaborasi ITDC bersama BRI sebagai upaya untuk menghadirkan pemberdayaan bagi UMKM, pelaku ekonomi, komunitas lokal, sekaligus memperkaya pengalaman berwisata di wilayah Nusa Dua,” ungkap Troy Reza Waroka.

Senada dengan hal tersebut, Sub Brand Office Head Nusa Dua, Risan Hanuraga, menegaskan bahwa keterlibatan perbankan dalam acara ini dilandasi oleh keyakinan kuat terhadap peran vital sektor kerakyatan.

“Kami percaya bahwa UMKM merupakan bagian penting dari kekuatan ekonomi Indonesia. Melalui kolaborasi ini, kami berharap pelaku usaha memiliki ruang lebih luas untuk memperluas jejaring dan menjangkau pasar yang lebih besar,” pungkas Risan Hanuraga.***

Berita Lainnya

Terkini