Denpasar-Semangat ekonomi Pulau Dewata di pertengahan tahun ini terpantau masih menyala. Berdasarkan data terbaru, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali pada Juni 2026 berada di angka 121,5.
Meskipun sedikit melandai dari bulan sebelumnya yang sempat menyentuh 121,9, tingkat optimisme warga Bali ini tercatat masih jauh lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di level 117,8.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Achris Sarwani, menjelaskan bahwa kokohnya keyakinan ini ditopang oleh kuatnya roda perekonomian daerah yang dirasakan langsung oleh berbagai lapisan.
“Optimisme konsumen pada Juni 2026 ini terutama didorong oleh kelompok masyarakat berpendapatan menengah dan menengah atas, yang sejalan dengan tetap kuatnya aktivitas ekonomi Bali saat ini,” ujar Achris Sarwani di Denpasar, Selasa (21/7).
Lonjakan optimisme paling mencolok tercatat pada masyarakat dengan kelompok pengeluaran tertentu. Berdasarkan catatan BI Bali, kenaikan bulanan (month-to-month) tertinggi terjadi pada:
• Kelompok pengeluaran Rp7 juta hingga Rp8 juta yang melonjak 17%.
• Kelompok pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta yang naik 14%.
• Kelompok pengeluaran Rp3 juta hingga Rp4 juta naik 9%.
• Kelompok pengeluaran Rp4 juta hingga Rp5 juta naik 5%.
Tidak hanya dari sisi pengeluaran, semangat positif ini juga merata dirasakan oleh para pekerja, baik di sektor formal yang mencetak angka 122,8 maupun sektor informal di level 120,4.
Di balik angka yang masih perkasa tersebut, dinamika menarik terlihat dari dua komponen utama pembentuk IKK:
Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turun 2,1% menjadi 123,7. Menurut Achris Sarwani, penurunan ini merefleksikan kehati-hatian masyarakat dalam melihat prospek ekonomi enam bulan ke depan.
Masyarakat masih bersikap waspada di tengah ketidakpastian ekonomi global, termasuk kekhawatiran terhadap dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang bisa mempengaruhi harga komoditas dan aktivitas perekonomian,” ungkap Achris Sarwani.
Kendati demikian, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan mendatang justru masih menunjukkan tren positif, naik tipis 0,4% menjadi 126,5.
Berbanding terbalik dengan ekspektasinya, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) justru menanjak naik 1,6% dari 117,5 di bulan Mei menjadi 119,3 pada Juni 2026.
Penguatan ini bersumber dari penilaian warga terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini (129,5) dan perbaikan penghasilan dibandingkan enam bulan lalu (125,5).
Untuk memastikan tren positif ini terus berlanjut, Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali tidak tinggal diam. Achris Sarwani menegaskan bahwa pihaknya terus mempererat sinergi bersama Pemerintah Daerah melalui Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TPPED).
Langkah taktis juga digencarkan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) lewat operasi pasar, pemantauan harga komoditas strategis, hingga kelancaran distribusi pangan demi menjaga stabilitas harga di pasaran.
Dari sisi moneter, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada level 5,75%, Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%.
Melalui bauran kebijakan yang solid ini, BI optimis inflasi akan tetap terkendali sehingga fondasi ekonomi Bali tumbuh semakin inklusif dan berkelanjutan. ***

