Yogyakarta – Aksi unjuk rasa di kawasan Simpang Empat Gramedia, Kota Yogyakarta, berakhir ricuh dan menyebabkan sedikitnya enam orang mengalami luka-luka. Insiden kekerasan ini turut menimpa seorang jurnalis perempuan dari Pers Mahasiswa (Persma) Pijar UGM bernama Tere, yang mengalami luka parah di bagian kepala akibat dipukul menggunakan kaleng.
Peristiwa bermula ketika situasi lapangan mulai memanas dan memaksa Tere bersama rekan-rekannya untuk mundur. Di area pembatas jalan, sekelompok pria yang diduga dari kelompok ormas tiba-tiba memprovokasi massa.
Saat Tere mencoba mempertanyakan tindakan tersebut, ia justru mendapat makian kasar sebelum akhirnya seorang pelaku melayangkan pukulan keras ke arah wajahnya.

“Saya kurang ingat jelasnya mereka balas berkata apa, yang paling saya ingat dibalas dengan kata kasar dalam bahasa jawa yaitu asu. Setelah itu, tiba-tiba seorang pria memukul saya,” ujar Tere dalam konferensi pers di Bundaran UGM, Kamis (3/9/2026).
Akibat pemukulan tersebut, ia sempat kehilangan kesadaran dan harus dilarikan ke rumah sakit akibat luka robek di atas pelipisnya.
Kekerasan ini diduga melibatkan kelompok ormas yang menyerang peserta aksi secara sistematis, bahkan saat massa sudah berniat membubarkan diri.
Perwakilan mahasiswa BEM UPN Veteran Yogyakarta, Deva Artika Sari, mengecam sikap aparat kepolisian di lapangan yang dinilainya melakukan pembiaran dan justru menekan peserta aksi yang sedang mundur.
“Saat ormas preman maju menyerang dan mengejar massa aksi, aparat kepolisian justru mendorong paksa massa aksi secara fisik, alih-alih menghadang ormas preman yang terang-terangan berniat melukai massa aksi yang sudah berkomitmen untuk membubarkan diri,” tegas Deva.
Deva menambahkan bahwa tindakan represif tersebut berlanjut sepanjang Jalan Cik Di Tiro hingga kawasan gerbang kampus UGM.
Kelompok penyerang dilaporkan menggunakan berbagai benda berbahaya, mulai dari batu, kayu, kaleng, mercon, tongkat baseball, hingga senjata tajam seperti karambit dan cutter, serta menyemprotkan pepper spray langsung ke mata massa aksi.
“Bahkan, ketika massa aksi telah berhasil menyelamatkan diri hingga mendekati wilayah kampus UGM, ormas preman tersebut tetap melanjutkan tindakan represifnya dengan melemparkan barang berbahaya berupa batu ke arah dalam gerbang kampus UGM,” pungkas Deva, seraya mencatat bahwa insiden ini telah memakan korban luka serius dari kalangan mahasiswa, termasuk peserta perempuan.

