Jakarta — Urusan kerjaan emang paling pas diselesaikan lewat ngobrol santai tapi serius. Hal inilah yang ditekankan oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dalam menjaga keharmonisan hubungan industrial di PT Indonesia Epson Industry.
Pemerintah turun tangan menjembatani komunikasi antara pihak manajemen dan serikat pekerja agar setiap masalah bisa klir tanpa harus pakai cara-cara panas.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, bilang kalau pemerintah siap jadi penengah yang asyik buat duduk bareng. Lewat cara ini, hak-hak karyawan aman, bisnis perusahaan tetep jalan lancar, dan iklim investasi juga aman terkendali.
“Dialog sosial adalah kunci utama mengurai dinamika kerja. Pemerintah hadir memfasilitasi ruang diskusi yang konstruktif dan sejuk agar hak normatif pekerja terlindungi adil,” ujar Afriansyah saat ketemu Federasi Serikat Pekerja Global Indonesia (F-SPGI) PT Indonesia Epson Industry di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Penyelesaian masalah di perusahaan ini mengandalkan musyawarah mufakat. Langkah ini diambil supaya semua pihak paham duduk perkara sebelum ambil keputusan. Prosesnya pun seru dan mengalir lewat beberapa tahap:
Serikat pekerja (F-SPGI) curhat langsung soal pelaksanaan Perjanjian Kerja Bersama (PKB), dinamika internal organisasi, sampai aturan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).
Kemnaker mempertemukan kedua belah pihak di satu meja. Di sinilah pekerja dan manajemen saling buka-bukaan uneg-uneg demi cari titik temu.
Pekerja sempat menyoroti soal prosedur pencatatan serikat, sementara pihak manajemen menjelaskan kebijakan yang diambil sudah sesuai hasil evaluasi kinerja perusahaan (business review)
Pembahasan juga melebar ke tata kelola serikat agar tetap selaras dengan prinsip netralitas perusahaan, bikin hubungan kerja makin sehat dan saling menghormati.
Lewat serangkaian obrolan produktif ini, Kemnaker fokus membina komunikasi yang renyah tapi bermutu antara karyawan dan bos-bos perusahaan.
Afriansyah berharap komunikasi yang cair ini terus berlanjut supaya tercipta kesepahaman bersama. Kalau semua pihak saling terbuka dan menghargai, masalah serumit apa pun dijamin bakal gampang diurai.
“Dengan komunikasi terbuka dan saling menghargai, solusi adil bisa tercapai, sekaligus mewujudkan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan,” tutupnya dengan senyum optimistis. ***

