Yogyakarta – Pandangan lama yang menempatkan ekonomi sebagai pusat kehidupan sosial kini mulai dipertanyakan. Pertumbuhan dan efisiensi memang lama dianggap sebagai ukuran keberhasilan, namun menurut pengamat sosial di Yogyakarta, cara pandang itu tidak lagi cukup untuk menjelaskan realitas masyarakat modern.
“Ekonomi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu tertanam dalam relasi sosial yang membentuk manusia,” ujar Iman Gunawan, pengamat sosial, merujuk pada gagasan sosiologi relasional Pierpaolo Donati.
Menurutnya, kesejahteraan bukan hanya soal berapa banyak yang dimiliki, tetapi juga bagaimana kualitas hubungan antarmanusia bekerja di dalam proses ekonomi.
Produksi, konsumsi, hingga distribusi, lanjutnya, bukan sekadar mekanisme teknis. Semua itu adalah proses yang mengubah—dan diubah oleh—relasi sosial.
“Ketika hubungan sosial direduksi hanya menjadi instrumen ekonomi, kita memang dapat efisiensi. Tapi kita juga kehilangan solidaritas, kepercayaan, dan makna kebersamaan,” katanya dalam keterangan tertulisnya Rabu 29 April 2026.
Ia menekankan, masalah ekonomi modern bukan hanya ketimpangan distribusi, melainkan penyempitan bentuk relasi sosial.
Semakin dominan logika transaksi dalam kehidupan sehari-hari, semakin berkurang kedekatan dan kedalaman hubungan antarindividu.
Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi seharusnya tidak berhenti pada pertumbuhan.
“Yang dibutuhkan adalah keseimbangan relasional, di mana pasar, keluarga, dan komunitas bisa hidup berdampingan tanpa saling meniadakan,” jelas alumnus Sosiologi Fisipol UGM ini.
Dalam kerangka ini, pekerjaan pun tidak sekadar aktivitas mencari pendapatan. Ia menjadi ruang pembentukan identitas, kepercayaan, sekaligus solidaritas sosial.
“Ekonomi menghasilkan barang dan jasa, tapi juga menghasilkan bentuk hubungan sosial tertentu. Itu yang menentukan bagaimana kita hidup bersama,” tutupnya.***

