KKP Kembangkan Riset dan Inovasi di Sektor Kelautan Madura

28 Februari 2021, 21:41 WIB

Madura – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Badan Riset
dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), terus mengembangkan
riset dan inovasi di sektor kelautan dan perikanan, salah satunya di Madura,
Jawa Timur.

Demikian disampaikan Kepala BRSDM Sjarief Widjaja, di Universitas Trunojoyo
Madura (UTM), Sabtu (27/2/2021).

Ia menyampaikan, pada 2021-2024 KKP memiliki program terobosan antara lain
peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sumber daya alam
perikanan pangkap, perikanan budidaya untuk kesejahteraan, pengembangan
kampung budidaya untuk pemulihan ekonomi masyarakat dan penyerapan tenaga
kerja.

Menurutnya, khusus untuk Madura, perlu dilakukan pemetaan tambak di pulau
tersebut untuk menentukan tambak yang aktif dan yang tidak, guna
ditindaklanjuti bagi pengembangan perikanan budidaya.

Selain itu perlu adanya kampung inovasi garam mulai dari hulu sampai hilir di
beberapa lokasi di Madura sebagai model percontohan.

Terkait inovasi garam ini, pihaknya telah melakukan riset melalui Instalasi
Pengembangan Sumber Daya Air Laut (IPSAL) Pamekasan, Madura, di bawah Pusat
Riset Kelautan BRSDM.

Salah satu inovasi yang dihasilkan adalah Pompa Air Tambak Garam Aplikasi
Kincir Sumbu Vertikal, bekerja sama dengan Bank Negara Indonesia.

Inovasi ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kecelakaan yang dialami oleh
petambak akibat terbentur bilah kincir konvensional hingga mengakibatkan
kematian.

Dengan mengaplikasikan kincir sumbu vertikal, selain aman, juga tahan terhadap
badai dan perubahan arah angin. Sebagai uji ketahanan dan uji respon petambak,
alat ini dipasang di 10 tempat tambak garam rakyat.

IPSAL juga bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa Bunder, Kecamatan
Pademawu, Pamekasan, dalam pembinaan dan pendampingan produksi garam
rekristal.

Kerja sama sejak 2018 ini merupakan rangkaian dukungan program Pemerintah
Kabupaten Pamekasan untuk menciptakan 10.000 lapangan kerja.

Masyarakat Desa Bunder dan Desa Pandemawu Barat, Pamekasan, juga menggunakan
inovasi alat dan metode pemurnian garam rekristal sistem rebus memanfaatkan
kalori sampah sejak 2020.

“Kami juga telah membuat konsep technopark, yaitu kawasan bangunan yang
diperuntukan bagi penelitian dan pengembangan sains dan teknologi berdasarkan
kepentingan bisnis,” ujarnya.

Technopark bertujuan untuk mendorong pemerintah daerah, dalam rangka
pengembangan riset untuk menghasilkan penemuan baru dan kerja sama antar
stakeholder serta memperoleh keuntungan dari pemanfaatan teknologi dan
transfer teknologi yang kuat antara pemerintah, industri, universitas, dan
masyarakat sehingga meningkatkan produktivitas dan daya saing.

“Pentagar diharapkan dapat memudahkan para peneliti untuk menganalisis
berbagai fenomena iklim, cuaca dan parameter lingkungan tambak terkait
produksi garam secara khusus maupun dinamika atmofser di wilayah pesisir
secara umum,” tutupnya. (riz)

Artikel Lainnya

Terkini