Sleman– Di era gempuran media sosial dan perubahan cara orang membaca berita, nasib media lokal sedang diuji. Agar tak sekadar bertahan, media lokal dituntut untuk mengubah strategi: berhenti berlomba mengejar kecepatan, dan mulai fokus membangun kedekatan dengan pembacanya.
Pesan ini mengemuka dalam workshop bertajuk ‘Membangun Media Lokal Berkelanjutan” yang digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di Isvara Riverside, Sleman, Rabu (8/7/2026).
Direktur Ekosistem Media Komdigi, Farida Dewi Maharani, mengingatkan saat ini media tidak hanya bersaing dengan sesama media, tetapi juga dengan platform digital dan kreator konten.
Teknologi sudah mengubah segalanya. Media lokal punya keunggulan yang tidak dimiliki platform global, yaitu kedekatan geografis dan pemahaman mendalam tentang budaya lokal.
“Jadilah media yang relate dengan publik, jaga validitas, dan jadilah rumah bagi kebenaran,” ujar Farida.
Di sisi lain, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers, Muhammad Jazuli, memberikan catatan kritis.
Ia menyoroti tingginya angka aduan masyarakat ke Dewan Pers—sebanyak 1.280 kasus di tahun 2025 dan lebih dari 700 kasus hingga pertengahan 2026.
Yang lebih memprihatinkan, banyak aduan tersebut justru datang dari media yang sudah terverifikasi dan wartawan yang sudah bersertifikat.
Pelanggarannya pun beragam, mulai dari berita tidak berimbang hingga praktik suap dan pemerasan.
“Jika kita terus bertarung secara ‘barbar’ dengan media sosial tanpa aturan, jangan heran jika media arus utama nantinya hanya akan menjadi kumpulan alumni wartawan saja,” tegas Jazuli.
Jazuli mendorong media lokal untuk menerapkan “Jurnalisme Positif”, Artinya, sebelum sebuah berita tayang, redaksi harus mempertimbangkan dampak dan implikasi bagi publik.
Ia menyarankan pendekatan yang lebih mikro, humanis, dan detail—apa yang ia sebut sebagai Strategic Detail.
Workshop yang dihadiri oleh insan media se-Yogyakarta ini diharapkan menjadi titik balik. Integrasi antara dukungan regulasi dari pemerintah dan pembenahan kualitas di ruang redaksi menjadi kunci utama agar media lokal tetap relevan dan berintegritas dalam 10 hingga 15 tahun ke depan. ***

